Jumat, 18 November 2016

HimiGakusei Chapter 03 - Sesuatu yang aku anggap penting

 

 

Type : Light novel

Judul : HimiGakusei

Chapter : 03

Title : Sesuatu yang aku anggap penting

Genre(s) : School, Romance, Drama, Comedy, Supernatural

Author : Eka anggadara

Written on : 05 - November - 2016


*****

 


 "Kau tidak apa-apa Kanna?"


 "Ya, aku baik-baik saja, terimakasih".


 Kulihat mereka dari jauh, jauh dibelakang mereka, saat itu kurasakan sesuatu perasaan aneh, sebuah perasaan tidak nyaman yang sebelumnya belum pernah kurasakan.


 "Hei kalian berdua, kalian tidak boleh melakukan hal mesum disekolah tau" ejeku


 Mendengar ucapanku itu membuat wajah Miyuki-san memerah dan ia langsung bergegas bangun.


 "I-i-ini bukan Y-yang seperti kau pikirkan S-shi-shirozuki-kun" ucapnya dengan kosak kata yang tidak jelas


 "Aku cuma bercanda, jadi apa yang sebenarnya terjadi?"


 "Ya itu, tadi ada tikus, apa kau tau Kanna itu takut tikus loh"


 "Kau tidak perlu mengatakan itu Sato!" Bentaknya sembari memukul Hiruma-san.


 "Ngomong-ngomong apa kalian berhasil menemukan liontinya?"


 "Ya, kami menemukanya tersangkut di rambut Shinomi-san"


 "Benarkah?, aneh sekali ya, kami bertiga bahkan Ren-chon sendiri tidak menyadari kalau liontinya berada disana".


 "Ya begitulah" ucapku.


 "Terimakasih ya!, berkat kalian bertiga aku berhasil menemukan liontinya".


 "Sama-sama" ucap kami bertiga.


 "Ah!" Shinomi-san tiba-tiba kaget akan sesuatu.


 "Ada apa Shinomi-san?"


 "Aku baru ingat kalau aku belum mengetahui nama kalian bertiga".


 "Kau benar juga, kalau begitu namaku Hiruma sato ketua klub ikatan"


 "Aku Miyuki kanna wakil ketua klub ikatan"


 "Kalau aku Shirozuki takuya, aku tidak mempunyai jabatan apapun di klub, pokoknya salam kenal Shinomi-san".


 "Ya!" Ucapnya dengan nada keras dan mata yang berbinar-binar.




---------------------------------------------------------------------
CHAPTER 03 : SESUATU YANG AKU ANGGAP PENTING
---------------------------------------------------------------------



 "Hey, ayo kita pulang Sato, Shirozuki!".


 "Ay----"


 "Tunggu, kau duluan saja dengan shinomi-san, aku dan Hiruma-san akan pulang nanti, benarkan Hiruma-san?"


 ".....ya" jawabnya bingung.


 "Baiklah kalau begitu kami pulang duluan ya, oh iya kalian jangan lama-lama, hari sudah semakin gelap". Ucapnya sambil melambaikan tangan.


 "Ya!" Jawabku.


 Kemudian sosok Miyuki-san serta Shinomi-san perlahan-lahan menghilang ditelan jarak.


 "Jadi, kau ada urusan apa denganku?"


 "Kau tidak usah sok kuat hiruma-san, lihat tanganmu berdarah apa kau tidak mau mengobatinya terlebih dahulu di ruang uks?"


 "Tidak apa-apa, ini cuma sedikit tergores, lagipula ini sudah malam".


 "Heh, kau itu terkadang cukup keras kepala juga ya Hiruma-san, ayo aku memaksamu untuk mengobatinya" ucapku kesal sambil menarik tangan Hiruma-san.


 "Tunggu....Shi-kun..."


 Walaupun dijalan ia terus-menerus memberontak, namun dengan sedikit paksaan akhirnya kami berdua sampai di depan ruang uks".


 "Akhirnya sampai juga, apa ruanganya sudah dikunci ya?" Ucapku sambil membuka pintu ruangan itu.


 Dan aku merasa lega karena ternyata ruangan itu masih belum dikunci, ketika aku membukanya, aku melihat sebuah ruangan yang gelap.


 "Ayo masuk Hiruma-san"


 "Ya"


 "Kau duduklah dulu, aku mau mengambil obatnya terlebih dahulu"


 Kemudian aku membuka sebuah lemari yang didalamnya terdapat obat untuk berbagai macam penyakit, dan tidak membutuhkan waktu lama bagiku  untuk menemukan obat luka dan sebuah perban.


 Selanjutnya aku mulai meneteskan obat luka tersebut ditanganya, lalu memperban luka yang ada ditanganya.


 "Kau pintar juga dalam mengobati ya, Shi-kun"


 "Itu wajar, kedua orang tuaku kan seorang dokter".


 "Benarkah?, aku baru tau".


 "Tentu saja, kan aku baru mengatakanya tadi, ngomong-ngomong aku baru tau kalau kau sangat peduli dengan Miyuki-san, kau bahkan tidak memberitahunya kalau kau terluka, itu supaya Miyuki-san tidak khawatir padamu kan?"


 "Ya bisa dibilang, bagiku Kanna adalah seseorang yang sangat penting keberadaanya didunia ini."


 "Begitu ya" ucapku.


 Ketika aku mendengar ucapan Hiruma-san barusan, aku semakin sadar kalau Hiruma-san memang sangat menyayangi Miyuki-san.


 "Dan juga aku sering sekali melihat kalian berdua berangkat bersama, apa rumah kalian berdekatan".


 "Ya, rumah kami bersebelahan".


 "Begitu, nah sudah selesai"


 "Eh cepat juga ya, terimakasih Shi-kun, sekarang aku sudah merasa lebih baik"


 "Ya sama-sama"


 Kemudian aku menaruh kembali obat luka tersebut kedalam lemari, namun tiba-tiba terdengar suara pintu yang terkunci.


 "Eh! Suara apa itu?" Tanyaku cemas.


 "Entahlah, tapi jangan-jangan....."


 Kami berlari menuju pintu untuk memastikan, dan benar saja, pintu ruangan uks terkunci dari luar dan meninggalkan kami didalamnya.


 "Bagaimana ini, kita terkunci" eluhku.


 "Tenang saja kau tidak terkunci sendirian kok".


 "Hal Itu tidak membuat keadaan menjadi lebih baik!".


 Kami berdua terkunci didalam ruangan itu cukup lama, udara di ruangan itu mulai dingin, dan juga jarum kecil pada jam sudah berlari menjauh dari angka enam ke angka pertama.


 Badanku mulai menggigil karena angin dingin yang masuk dari sebuah lubang kecil di atas pintu.


 Karena badan sudah lelah dan juga ditambah perut yang sudah lapar, aku pun bersandar pada sebuah tumpukan kardus yang kebetulan ada di belakang tubuhku.


 Namun betapa sialnya aku karena tumpukan kardus-kardus itu malah ambruk dan menimpa tubuhku.


 "Aw,aw sakitnya...."


 "Apa yang sedang kau lakukan Shi-kun?, kenapa kardus-kardus itu mengerumunimu? Apa kau menggoda mereka?"


 "Tentu saja tidak kan!"


 "Kau ini melakukan hal yang ada-ada saja" ucap Hiruma-san sambil memindahkan kardus-kardus tersebut dari atas tubuhku.


 "Ah!"


 "Kau kenapa Hiruma-san?, apa kau baru melihat hantu".


 "Tidak bukan itu, lihatlah disana ada pintu"


 "Kau benar, ternyata dibalik tumpukan kardus ada sebuah pintu."


 Kemudian kami membuka ruangan tersebut dan mendapati sebuah ruangan lain, namun kali ini ruangan tersebut tidak sepetang ruang uks.


 "Dimana ini?" Tanyaku.


 "Sepertinya aku tidak asing dengan ruangan ini, ah aku baru ingat ini adalah toilet siswa perempuan".


 "Toilet perempuan?!" Mendengar hal itu langsung membuatku berlari keluar karena malu.


 "Kau kenapa Shi-kun?".


 "Tentu saja karena malu, apa kau tidak merasa malu?!"


 "Tidak"


 "Eh kenapa?"


 "Aku tidak tau"


 "Kau orang yang tidak tau malu ya Hiruma-san, tunggu dulu kau tadi barusan mengatakan kalau kau tidak asing dengan toilet perempuan?"


 "Ya aku mengatakanya"


 "Jangan bilang kau pernah masuk kedalam toilet perempuan sebelumnya"


 "Ya aku per---, ah! T-tentu S-saja ini baru per-pertama kalinya, kenapa kau b-berkata begitu?!".


 "Benarkah?".


 "Y-ya ak-aku berani ber-bersumpah!"


 "Aku tidak percaya padamu Hiruma-san"


 "Kenapa?, Per-percayalah"


 "Bagaimana aku mempercayaimu, bicaramu saja tidak jelas begitu".


 "Itu karena dingin, apa kau tidak merasa kedinginan?"


 "Begitu, benar juga setelah kau mengatakanya temperatur disini benar-benar dingin, bagaimana kalau kita pulang?".


 "Ya, lagipula sekarang sudah melebihi tengah malam."


 Aku dan Hiruma-san pun berjalan pulang keluar sekolah dengan berjalan kaki.


 "Apa rumahmu dekat Shi-kun"


 "Ya, cuma berjarak 3 blok dari sini, bagaimana denganmu".


 "Aku juga dekat kok, hanya 4 blok lagi sampai"


 "Begitu"


 "Disini benar-benar dingin ya?"


 "Kau benar, sudah gitu kita cuman memakai seragam sekolah".


 "Ya, hei Shi-kun mau mampir sebentar" Ucap Hiruma-san sambil menunjuk sebuah kafe.


 "Boleh juga, lagipula perutku sudah keroncongan".


 Kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di sebuah kafe, karena udara dingin serta perut yang sudah teramat lapar, mau tidak mau aku harus mampir sebentar.


 Kubuka pintu kafe itu dan seketika ada sebuah bunyi lonceng yang menandakan kalau sedang ada pelanggan yang datang, lalu tidak lama kemudian ada seorang pelayan yang menyambut kami.


 Rambutnya hitam terurai, tubuhnya yang langsing serta suara lembut yang ia miliki menjadi bukti kalau ia memang pantas menjadi seorang pelayan kafe.


 "Selamat datang tuan" Sambutnya.


 "Ya"


  Kami menengok-nengok sebentar ruangan kafe tersebut, tema kafe itu penuh dengan warna-warni cerah terutama kuning, dan karena pada saat itu keadaan kafe sedang sepi, jadi dengan mudahnya kami bisa mendapatkan kursi kosong


 Kami berdua memutuskan untuk duduk didekat pintu, kami memilih tempat tersebut karena itu adalah tempat duduk dengan jarak terdekat dari lingkungan luar.


 Tidak lama kemudian, gadis kafe yang cantik tersebut mendatangi meja kami berdua.


 "Apa anda sudah siap memesan, tuan"


 "Ya,aku pesan kopi hitam, untuk makananya ehm....yakisoba saja, kau bagaimana shi-kun?"


 "Ah aku pesan teh, kalau makanan sesuaikan saja denganya"


 "Baik, apa ada hal lain yang anda inginkan?"


 "Oh, kalau boleh tau siapa namamu?"


 "Apa yang kau lakukan Hiruma-san?"


 "Ada apa? Aku hanya ingin mengetahui namanya saja, kau juga ingin tahu kan?"


 "Eh!...."


 "Hihihi...Kalian berdua-benar-benar lucu ya, baiklah tunggu sebentar sampai pesananya sudah siap".


 Kemudian ia pergi kedapur, dan tidak lama kemudian ia kembali, namun kali ini ia membawa 2 buah nampan yang diatasnya terdapat minuman dan makanan yang kami pesan.


 "Ini tuan, selamat menikmati"


 "Ya terimakasih"


 "Dia benar-benar manis, ya kan Shi-kun?"


 "Y-ya" jawabku malu.


 "Kau benar-benar lucu ketika sedang tersipu hahaha"


 "Itu tidak lucu sama sekali!".


 "Ngomong-ngomong bagaimana perasaanmu setelah menyelesaikan tugas pertamamu di klub ikatan?".


 "Kenapa kau bertanya begitu?".


 "Aku cuma ingin tau saja, apa itu tidak boleh?"


 "Ya bagaimana menjelaskanya, maksudku aku merasa senang sekali saat kita berhasil menemukan liontin Shinomi-san, perasaan ini baru pertama kalinya kurasakan, perasaan senang ketika berhasil membuat orang lain senang, adalah sebuah perasaan terbaik yang pernah kurasakan".


 "Kau tersipu lagi loh Shi-kun".


 "DIAM!!"


 Kami berdua beristirahat di kafe itu cukup lama, dan ketika jam menunjukan pukul 2 pagi, kami memutuskan untuk pulang kerumah.


 -"-"-"-"-"-"-"-"-"-"-"-☆★☆★☆★☆★☆-"-"-"-"-"-"-"-"-"-"-


 Suara apa itu?, aku sepertinya tidak asing lagi dengan suara itu, angin? Hujan? Oh bukan!, sekarang aku ingat, itu adalah suara burung yang sedang berkicau, tapi tunggu dulu, kenapa disini ada burung?.


 Tak lama setelah suara burung yang berkicau, kali ini ada suara berisik, suara berisik itu bahkan lebih berisik dari seekor gajah yang sedang menangis, agar mengetahuinya aku akhirnya mencoba untuk melihatnya langsung dan saat itu aku sadar kalau itu adalah suara jam alarm, dan saat itu aku juga menyadari kalau matahari sudah muncul kembali untuk menyapa hari yang cerah.


 "Sudah pagi ya?" Ucapku sambil menguap.


 Kemudian aku mengganti piyama tidurku dengan seragam sekolah yang kusimpan di lemari pakaian.


 Setelah itu aku pergi ke ruang tengah untuk sarapan, saat aku sedang memakan makan sarapanku, tiba-tiba tirai jendelaku tersingkap dan muncul sebuah sinar panas, eh tunggu, kenapa panas? Bukankah seharusnya hangat?.


 Karena heran, aku memutuskan masuk ke kamar untuk melihat jam, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat jam yang sudah menunjukan pukul 07:55, yang artinya jam pertama akan dimulai 5 menit lagi.


 Lantas aku langsung berangkat kesekolah, saat itu yang ada dipikaranku adalah aku tidak ingin terlambat masuk sekolah, apalagi siswa yang bertugas untuk bagian absensi hari ini adalah Chinatsu Akane yang terkenal akan ketegasanya.


 Aku berlari menyusuri trotoar menuju sekolah, bahkan bisa dibilang lari kali ini adalah rekor lari tercepatku.


 Saat aku berlari dengan sekuat tenaga, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang siswa perempuan tengah berjalan pelan.


 Awalnya aku ingin mengabaikanya karena sedang buru-buru, namun karena dorongan dari jiwa kemanusianku akhirnya aku berhenti sejenak untuk menyapanya.


 Ia memakai kacamata, rambutnya panjang akan tetapi cukup berantakan, serta memakai seragam yang sama dari sekolahku namun dihiasi dengan corak warna merah, yang berarti dia adalah siswi kelas tiga.


 "Anu...senpai, ini sudah hampir masuk loh, apa tidak apa-apa kau berjalan sepelan itu?"


 "Tidak papa"


 Aku sedikit terkejut setelah mendengar jawabanya, apalagi ia menjawanya dengan ekspresi wajah yang sangat datar......



》》To be Continued《《



Terimakasih telah berkunjung ke Linovel id, kunjungi terus www.Linovel-id.blogspot.com untuk mendapatkan novel-novel terbaru dari kami.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar