Type : Light novel
Judul : I'll
Chapter : 01
Genre(s) : Drama, School
Author : 7E°
Date : 01-Februari-2017
--- 》》Linovel ID《《---
Pernahkah kau berpikir untuk menjadi seseorang yang dicintai oleh semuanya?.
Seseorang yang dicintai oleh orang tuanya, keluarganya, kerabatnya, tetangganya, Gurunya, Teman-temanya, dan dicintai oleh orang yang kau cintai.
Jujur saja kalau aku pernah terpikirkan akan hal itu, bahkan hampir setiap waktu aku selalu memikirkan hal tersebut.
Oh aku lupa menanyakan sesuatu, jika kau diberi sebuah tombol reset dari tuhan, akankah kau menekan tombol reset tersebut?
》》CHAPTER 01《《
Aku berjalan pulang kerumah dari sekolah, pukul 04:30 adalah waktu yang tepat.
Suara orang-orang yang tengah berbisik selalu saja tidak sengaja kudengar, atau bisa dibilang aku tidak bisa untuk tidak mendengar suara-suara yang menggelisahkan tersebut.
Sampai di kamar kostku, sebuah ruangan kosong kulihat dengan biji mataku, tak ada yang menyambutku, yang menyambut kepulanganku hanyalah seekor cicak yang tengah hinggap di tembok kamarku.
Kulepas kancing baju seragamku satu persatu, kemudian kuambil sebuah handuk yang tergantung dijemuran.
Belum sempat aku masuk ke kamar mandi, suara ketukan pintu tiba-tiba bergeming dari luar pintu.
Aku bingung untuk beberapa detik, pasalnya aku sudah melepas semua bajuku, karena aku tidak tau yang mengetuk pintu tersebut siapa, akupun memutuskan untuk memakai seragamku kembali sebelum membuka pintuku.
Genggamku ke gagang pintu, dan disaat itu aku melihat seorang ibu-ibu dengan ekspresi marah yang jelas tergambarkan dari wajahnya.
"SUDAH KUKATAKAN BERULANG KALI KEPADAMU UNTUK MENJAUHI PUTRAKU! TAPI KAU MASIH TETAP SAJA MENDEKATINYA!"
Burung-burung yang bertengger di pohon saat itupun seketika langsung terbang menjauh.
"Maaf Kimura-san.......maafkan aku........."
Aku meminta maaf kepadanya hanya karena alasan yang tidak jelas tersebut, bahkan aku melakukanya dengan lekukan tubuh 90°.
Akan tetapi ia tidak bergeming dengan permintaan maafku, dan tetap kekeh dengan pendirianya untuk tetap memarahiku.
Bahkan hanya jelang beberapa detik saja ia kembali berteriak dengan volume yang terlebih keras dari teriakan yang pertama.
"AKU SUDAH MUAK DENGAN PEEMINTAAN MAAFMU! LEBIH BAIK KAU PERGI SAJA DARI RUMAH KOSTKU!".
Dengan wewenangnya sebagai ibu kost, tentu saja ia berhak untuk mengusirku saat itu juga.
"Kumohon jangan mengusirku Kimura-san...... aku tidak tau harus tinggal dimana lagi........" mohonku padanya dengan lekukan tubuh lebih rendah dibawah angka 90°.
Air mataku tak kuasa kubendung, tetes per tetes secara perlahan mulai mengalir dari kelopak mataku.
"AKU TIDAK PEDULI!"
Ia berteriak untuk kesekian kalinya, bukan hanya itu, bahkan kali ini ia masuk kekamarku dan mulai mengemasi barang-barangku tanpa seijin dariku.
Saat sedang dalam keputusasaan, seorang anak kecil yang kira-kira berumur 10 tahun datang menghampiriku.
Dengan suara kecilnya ia berteriak kepada ibunya, yap kepada si ibu kost.
"Ibu apa yang sedang kau lakukan!"
Kimura-san seketika langsung terhenti setelah mendengar suara anaknya yang berada di luar pintu kamarku.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?!, Ren!"
"Seharusnya Ren yang bertanya begitu!, apa yang sedang ibu lakukan di kamar Aika-nee-chan".
Nafasnya tersenggal setelah berteriak untuk yang kedua kalinya.
Kimura-san keluar dari kamarku, ia menekuk kedua lututnya lalu didekapnya kedua bahu Ren di kedua tanganya.
"Dengar Ren, Aika itu tidak baik untukmu, dia hanya membawa efek negatif saja pada dirimu".
"Memangnya apa yang ibu ketahui tentang Aika-nee-chan?! Aika-nee-chan itu orang yang baik, dia selalu ada disampingku ketika aku sendirian".
Berdirinya dari berlutut, dia kemudian kembali berteriak, namun kali ini teriakanya ditujukan bukan kepadaku melainkan kepada Ren, anaknya sendiri.
"Kalau begitu terserah apa katamu! Kalau kau tetap ingin bersama wanita tersebut, lebih baik kau ikut pergi denganya saja!".
Kaki wanita paruh baya tersebut pergi meninggalkan Ren yang tengah menangis begitu saja.
Sanubariku tersentuh saat itu, ibu macam apa yang menyuruh anaknya untuk pergi, sebenarnya Ren tidak salah apa-apa, padahal dia hanya mencoba untuk membelaku saja.
Aku menghampirinya, kemudian kuelus kepalanya dan aku membisikan beberapa kata kepadanya.
"Ren pulanglah, hampiri ibumu lalu minta maaflah kepadanya".
"Tapi bagaimana dengan Aika-nee-chan?" Tanyanya menghawatirkanku.
"Kau tenang saja, Aika-nee-chan baik-baik saja"
Walaupun saat itu aku tersenyum, namun sebenarnya ada satu hal yang aku sembunyikan darinya, satu hal yang aku tidak ingin Ren untuk mengetahuinya, yaitu aku tidak ingin dia tahu kalau senyumku saat itu adalah sebuah senyuman palsu.
"Aika-nee-chan yakin?" Ucapnya sambil terus menangis.
"Ya, tenang saja".
"Kalau begitu aku pergi dulu, Aika-nee-chan tunggu saja disini".
"Ya, pergilah temui ibumu" ucapku untuk meyakinkan Ren.
Matahari telah terbenam dan suasana gelap telahpun menyelimuti langit biru, namun itu tidak berlaku untuk Ren, karena bersamaan dengan terbenamnya matahari, senyum manisnya telah kembali kewajahnya.
Kubuka lemari bajuku dan mulai mengemasi pakaianku, sungguh berat rasanya kaki ini untuk pergi dari rumah kost tersebut.
kusobek secarik kertas dan menuliskan beberapa butir permintaan maafku teruntuk Ren, lalu kutinggalkan surat tersebut bersamaan dengan uang sewa kamar bulan ini di atasnya.
Aku melangkah jauh meninggalkan rumah sementaraku itu.
Air mataku masih saja menetes, orang-orang yang sedang berjalan saat itupun otomatis menatapku saat berpapasan.
"Kenapa ia menangis?" Mungkin itulah kata-kata yang terpikirkan oleh orang-orang tersebut.
Karena aku tidak ingin menjadi bahan tontonan, akupun sesegera mungkin menutup wajahku dengan rambut panjangku.
Sungguh sangat indah pemandangan kota Niigata pada malam yang dingin itu, gedung-gedung tinggi menghiasi jalanan, apalagi ditambah dengan lampu rumah dan juga lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang membuat suasana malam itu sangat berwarna, oh..tapi keindahan itu tak berarti bagi hatiku yang tengah kesepian.
Orang-orang sedang makan dengan enaknya saat aku mengintip sebuah restaurant yang kebetulan berniaga di jalan yang kutapaki.
Aku sangat lapar dan kedinginan, bahkan beberapa kali suara perutku terus menerus tak berhenti untuk bersuara, saat itulah aku teringat kalau aku belum makan apa-apa sejak pagi tadi.
Aku terus berjalan dan berjalan terus menerus, mungkin sudah sejam lebih semenjak aku meninggalkan rumah kostku.
Ketika hari sudah semakin dingin, saat itulah untungnya aku menemukan sebuah bangunan tua dihadapanku, mungkin bangunan tersebut sudah setahun lamanya ditinggalkan. Saat itu yang ada dipikiranku adalah "mungkin malam ini aku tidur disini saja".
Akupun memutuskan untuk memasuki bangunan tersebut, dan yang kutemui disana adalah sebuah bangunan yang disetiap sudutnya terdapat banyak sekali kawanan laba-laba dan jaringnya.
Saat itu aku tidak memikirkan semua itu, toh aku juga tidak punya tempat lain yang lebih baik dari tempat ini, lagipula bangunan ini juga masih lumayan layak untuk ditempati.
"Aku harap besok akan lebih baik daripada hari ini" harapku sebelum terlelap malam itu.
Akupun akhirnya tidur dibangunan tersebut, dibangunan yang tidak ada secercah cahaya sedikitpun, bangunan yang dingin, dan juga aku harus tidur tanpa sebuah kecupan kasih sayang. Hal itu seolah-olah keberadaanku ini tidak diinginkan oleh seorang pun di dunia ini.
***
Matahari telah menyongsong di pagi hari ini, akupun dibangunkan oleh sinarnya yang menghangatkan.
Baru beberapa menit saja, perutku sudah kembali berbunyi lagi.
Kubuka pintu bangunan tersebut, ketika sinar sang cakrawala sudah mengenai langsung wajahku, saat itulah nampaknya aku sudah benar-benar sadar dari tidurku.
Ketika aku mengelus rambutku, saat itulah aku merasakan kekusutan yang teramat kusut disetiap helainya.
Karena hal itulah akupun pergi keluar mencari sumber mata air untuk membasuh rambut kusutku ini.
**Disebuah toko**
Terlihat seorang perempuan paruh baya tengah berjalan keluar dari sebuah toko perhiasan.
Dilihat dari penampilanya, sepertinya perempuan tersebut adalah seseorang yang kaya raya, itu terlihat dari tasnya yang divariasi dengan beberapa butir berlian murni.
Dia berjalan dengan lenggak-lenggoknya, dan dia sepertinya tidak menyadari kalau dia sedang diawasi.
Berjarak sekitar 15 meter dari tempatnya, seorang laki-laki berkumis tengah mengawasinya sejak dari tadi.
Laki-laki tersebut masih terus mengawasi perempuan tersebut, dan ketika sampai disebuah tikungan, ia tiba-tiba berlari dari tempatnya.
Dicurinya tas milik perempuan tersebut oleh laki-laki itu, dan dengan secepat kilat ia pun berlari.
"Tolong,,,,,,,Tolong!!"
Perempuan itu hanya bisa menjerit meminta tolong, namun nampaknya laki-laki pencuri itu sangat cerdik, karena ditikungan tersebut tidak ada seorangpun yang terlihat.
Karena terpaksa, perempuan itu pun mengejar pencuri itu seorang diri.
Dan kejar mengejar antara korban pencurian dengan pelakunya pun terjadi tak terelakan.
***
Setelah cukup lama aku berjalan, akhirnya aku menemukan sebuah sumber mata air berupa keran.
Akupun memutuskan untuk mencuci rambutku di keran tersebut, lagipula tempat itu juga sepi tanpa ada seorangpun yang berlalu lalang.
Kubilas setiap helai rambutku, saat itu akupun kembali mendapatkan kesegaran yang sudah lama tidak aku rasakan.
Aku juga beberapa kali meminum air dari keran itu, walaupun air itu mungkin air yang kotor, namun aku tidak punya pilihan lain karena saat itu aku sudah teramat haus.
jika membeli air minum dari toko, aku juga tidak bisa melakukanya dikarenakan tidak memiliki uang sepeserpun, jadi mau tidak mau aku harus meminum air keran itu jika ingin memuaskan dahagaku.
Setelah selesai minum akupun sesegera mungkin kembali ke bangunan tua tadi sebelum ada seseorang yang melihatku, walaupun jalanan saat itu masih sepi, namun aku juga berjaga-jaga dengan menutup wajahku dengan rambutku. Hal itu lagi-lagi kulakukan karena aku tidak ingin menjadi bahan tontonan orang-orang.
Aku berjalan sudah cukup lama, bahkan bisa dibilang lebih lama dibandingkan dengan saat aku mencari sumber air itu.
Karena tak kunjung menemui bangunan tua tersebut, aku pun menyadari kalau aku telah tersesat entah kemana.
Aku terus berjalan mencari jalan pulang, dan ketika aku menemukan sebuah pertigaan, saat itulah aku......
"Duar!!!"
Seorang laki-laki berkumis yang tengah membawa sesuatu ditangan kananya tiba-tiba menabrakku, bahkan karena kerasnya, akupun sampai tersungkur kebelakang.
Seluruh rasa sakit kurasakan disekujur tubuhku, terutama dibagian kepala karena terbentur tembok jalan.
Saat aku melihat kembali laki-laki itu, ternyata ia sedang mengelus-elus tangan kananya, jadi kesimpulanya mungkin ia juga merasakan sakit karena tabrakan tadi.
Ketika aku mencoba mendekatinya, aku merasa terkejut karena tiba-tiba saja ia berteriak.
"Brengsek!,,, apa yang sedang kau laku---!"
Ia tiba-tiba berhenti dan membeku tak bergerak, aku tidak tau mengapa hal itu terjadi.
"Pak, kau tidak apa-apa?" Tanyaku padanya.
Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku dan masih saja membeku, namun beberapa belas detik kemudian ia kembali berteriak.
"H-HAN-HANTU!!!!!!" Teriaknya sembari lari ketakutan.
Aku tidak tau mengapa ia berteriak begitu, mungkinkah ia mengira kalau aku adalah hantu karena rambutku yang saat itu menutupi seluruh wajahku?, entahlah, namun yang pasti ia meninggalkan benda yang ia bawa tadi.
Aku mendekati benda tersebut yang terlempar cukup dekat dengan sebuah tiang listrik, dan betapa terkejutnya aku setelah aku mengetahui kalau benda tersebut adalah sebuah tas berlapis berlian murni.
Akupun memutuskan untuk memungutnya kemudian mengembalikan tas tersebut kepada pemiliknya, namun belum sempat aku berbalik badan, tiba-tiba seorang perempuan datang dari sisi yang lain dari pertigaan tersebut.
Aku terdiam sejenak karena melihatnya bernapas tak beraturan, ketika aku mencoba mendekatinya, aku kembali terkejut karena ia juga berteriak seperti seorang laki-laki tadi.
"Kena,,,,,,kau,,,,pen-pencuri!" Teriaknya terpotong-potong.
Aku tidak tau apa yang ia maksud, siapa yang ia panggil pencuri? aku?! tidak mungkin, tadi aku dibilang hantu, sekarang aku juga malah dibilang pencuri?. Kira-kira begitulah yang aku pikirkan saat itu.
》》CHAPTER 01 : KESENDIRIAN《《
→To be Continued←
Terimakasih telah membaca I'll chapter 01 ini >_<

Tidak ada komentar:
Posting Komentar