Jumat, 04 November 2016

HimiGakusei Chapter 02 - Liontin


Type : Light novel

Judul : HimiGakusei

Chapter : 02

Tittle : Liontin

Genre(s) : School, Romance, Drama, Comedy, Supernatural

Author : Eka anggadara

Written on : 20 - Oktober - 2016

 

---------------------------------------------------

 

"Baiklah silahkan duduk"


 Fujiwara-sensei datang ketika aku baru sampai ke kelas, hal itu menyebabkan aku tidak bisa istirahat sejenak.


 Seperti biasa, ia bercerita tentang sejarah-sejarah penting di jepang,


 Karena aku tidak begitu suka dengan pelajaran sejarah, itu membuat diriku hampir tertidur.


 Dan tanpa kusadari, jam istirahat sudah bunyi.


 "Shirozuki-kun kemari sebentar"


 Saat aku sedang menaruh buku-bukuku di tas, dia memanggilku keluar.


 "Ada apa Sensei?"


 "Aku dengar kau masuk kedalam sebuah klub ya,Shirozuki-kun"


 "Y-ya benar"


 "Baguslah akhirnya kau sudah bisa bergaul, semoga kau betah ya diklubmu"


 "Ya terimakasih"




--------------------------------

 CHAPTER 02 : LIONTIN

--------------------------------

 


 Tap...tap....tap, kulangkahkan satu demi satu kakiku, dan tanpa kusadari aku sudah sampai di ruangan klub.


 Kulihat seorang manusia tengah tidur diatas meja, namun tanpa dilihatpun aku sudah tau kalau itu adalah Hiruma sato.


 Kucoba memanggil serta mendorong tubuhnya agar ia terbangun.


 "Anu, Hiruma-san ini bukan tempat tidur loh" ucapku.


 "Oh Shi-kun, apa sekarang sudah pagi?"


 "Tidak, bahkan sekarang sudah sore"


 "Ah~~~ jadi begitu" ucapnya sambil menguap.


 "Apa?!, sudah sore?!"


 "Ya, sekarang sudah sore"


 "Sial, kenapa kau tidak membangunkanku Shi-kun?!"


 "Itu mustahil, membangunkanmu saat kau baru tertidur itu bagaikan kau meminum air menggunakan garpu"


 "Mau gimana lagi, yang sudah terjadi biarlah berlalu"


 "Jadi kau menerimanya begitu saja?, di minggu ini kau sudah 5 hari membolos sekolah loh?"


 "Aku tau, memangnya kenapa?"


 "Tidak, bukan apa-apa?"


 Awalnya aku mau bilang kalau kau terus-terusan membolos kau bakal tidak naik kelas, namun sepertinya kalaupun aku berbicara seperti itu, dia tidak akan menanggapinya.


 Jadi akhirnya aku membuat 2 teh saja untuku dan untuk Hiruma-san.


 Saat aku tengah membuat teh, Miyuki-san masuk kedalam ruangan klub.


 "Oh, Miyuki-san selamat datang"


 "Ya"


 "Apa kau ingin kubuatkan teh?"


 "Terimakasih Takuya-kun"


 "Hei Sato, kau membolos lagi ya?"


 "T-tidak kok"


 "Yang bener?"


 "Ya, bener kok"


 "Hei Takuya-kun apa tadi Sato membolos lagi?"


 "Y-ya dia melakukanya lagi"


 "Maaf, Kanna aku tadi ketiduran, aku janji kalau ini yang terakhir kalinya"


 "Kemarin-kemarin kau juga berkata seperti itu"


 "Kalau itu...."


"Nih, kalian berdua" ucapku sembari memberi 2 cangkir teh.


 Selepas itu aku duduk, sembari menyaksikan Hiruma-san yang diomeli Miyuki-san.


 "Ngomong-ngomong kenapa sampai saat ini masih belum ada juga permintaan ke klub kita"


 "Oh itu, entahlah lagipula kau bergabung ke klub ini baru 3 hari kan"
 Jawab Hiruma-san.


 "3 hari?, aku sudah bergabung selama 1 minggu tau"


 "Jadi begitu, sudah satu minggu ya? Waktu berjalan sangat cepat"


 Kemudian aku keluar untuk membeli sebuah cangkir teh dikarenakan cangkir teh yang tersedia di ruang klub tidak cukup.


 Saat aku melewati gerbang, disitu aku melihat seorang siswa dengan gerak-gerik yang mencurigakan.


 Karena aku tidak kenal dengan siswa tersebut, jadi aku berusaha untuk mengabaikanya serta berpura-pura tidak melihat apapun.


 Akan tetapi tiba-tiba siswa itu terpeleset dan jatuh tepat didepan mataku.


 Karena aku merasa kasihan padanya, aku memutuskan untuk menolongnya.


 Rambutnya pendek serta berambut merah muda, sekilas aku melihatnya sebagai seorang siswa laki-laki, namun ketika aku melihat pakaianya ternyata ia adalah seorang siswa perempuan.


 "Kau tidak apa-apa?" Ucapku sembari mengulurkan tanganku.


 "Y-ya aku tidak apa-apa"


 Walaupun ia berkata begitu, namun aku tau kalau dia sedang berbohong, itu terlihat karena aku melihat lututnya yang tergores dan dari mimik wajahnya yang seperti sedang menahan sakit.


 "Apanya yang tidak apa-apa, lihat lututmu berdarah"


 Lalu aku menyuruhnya untuk duduk sebentar dibangku, yang kebetulan terletak di taman dekat gerbang.


 Selagi ia duduk, aku pergi untuk membeli minuman dingin serta perban untuknya.


 "Maaf aku tidak tau minuman kesukaanmu, jadi aku membelikanmu minuman yang sama denganmu"


 "Tidak apa-apa"


 Lalu aku melepas bungkus yang menyegel perban itu dan menempelkan di lututnya.


 Saat aku menempelkanya, aku tau dia merasa kesakitan karena ia sesekali mengucapkan kata "ouch" yang menandakan ia sedang sedikit 'tersiksa'.


 Kemudian aku menyuruhnya untuk meminum minumanya agar ia bisa sedikit tenang.


 "Kenapa?"


 "Hm...apa?"


 "Kenapa kau baik sekali denganku, padahal kita baru pertama kali bertemu?"


 "Entahlah, bahkan aku baru sadar sedang menolongmu ketika kau mengatakanya tadi, tapi mungkin itu karena aku tidak bisa membiarkan seseorang yang sedang kesusahan, mungkin hanya itu saja alasanku".


 "Begitu, kau memang seorang laki-laki yang baik ya, terimakasih telang menolongku"


 "S-sama-sama, ngomong-ngomong apa yang tadi kau lakukan didepan gerbangi? Kenapa kau tadi bertingkah aneh?"


 "Itu, aku sedang mencoba untuk mengirimkan surat permintaan ke klub ikatan, tetapi aku terlalu malu untuk melakukanya"


 "Permintaan ke klub ikatan? Memangnya kau mau meminta tolong tentang apa? Kebetulan aku adalah salah satu anggotanya"


 "Benarkah itu?" Tanyanya dengan wajah berseri-seri


 "Y-ya semacam itu"


 "Ayo"


 "Tunggu, kemana?"


 "Tentu saja ke ruang klub ikatan, kau ingin meminta tolong sesuatu kan?"


 "Y-ya"


 Kemudian aku dan perempuan itu berjalan menuju ke ruang klub.


 Sampai di depan pintu klub, tiba-tiba terdengar suara benda-benda yang berjatuhan dari dalam.


 Lantas suara itu langsung membuatku terkejut dan bahkan membuat perempuan berambut pendek disampingku merasa kaget bercampur takut.


 "A-a-aapa itu?" Tanyanya sembari menunjukan ekspresi wajah yang ketakutan.


 "Itu?, ah sebaiknya kau jangan dipikirkan"


 Kubuka pintu ruang klub, dan disana aku mendapati Hiruma-san yang tengah dilempari barang-barang oleh Miyuki-san.


 "Apa yang sedang kalian lakukan?"


 "Shi-kun tolong aku" ucapnya sembari berlari menuju belakang tubuhku.


 "Minggir Takuya-kun biarkan aku memukulnya!"


 "Tunggu...tunggu dulu.. sebenarnya apa yang terjadi?"


 "Aku hanya melihat celana dalamnya saja kok, kenapa dia marah?"


 "Eh tunggu, bukankah memang wajar ia marah padamu yang melihat celana dalamnya"


 "Bukan begitu, aku memang melihatnya, namun itu tidak sengaja, tiba-tiba saja ada angin berhembus yang mengakibatkan rok-nya tersingkap"


 "Mau sengaja atau tidak sengaja, kau memang melihat celana dalamku kan?!" Bentak Miyuki-san yang nampaknya tidak menghiraukan penjelasan dari Hiruma-san.


 Melihat hal itu, membuat perempuan berambut merah muda tersebut semakin ketakutan, bahkan hingga membuatnya bersembunyi dibalik pintu.


 "Kau tidak apa-apa?"


 "Ya, aku hanya sedikit ketakutan"


 "Heh.... kalian berdua tolong hentikan, itu membuat pengunjung kita ketakutan"


 "Pengunjung?" Tanya Hiruma-san


 "Oh, ternyata ada 'user' ya"


 "User?" Tanyaku yang merasa kebingungan mendengar kata yang mirip dengan salah satu produk sabun itu.


 "Ya user, kami menyebut mereka yang meminta bantuan dengan sebutan itu, apa aku belum memberitahumu?"


 "Sama sekali belum!"


 "Hai, aku Miyuki kanna wakil ketua klub ikatan, kau ingin meminta bantuan apa?"


 "aku ingin meminta bantuan untuk---"


 "Tunggu dulu!" Potong Hiruma-san tiba-tiba hingga membuatnya terkejut.


 "Ada apa Hiruma-san?"


 "Bagaimana kalau kita minum teh terlebih dahulu, sambil memperkenalkan dirimu?"


 "Ah aku baru ingat kalau aku belum mengetahui namamu, kau kadang-kadang pintar juga ya Hiruma-san" jawabku agak sedikit mengejek.


 Kemudian perempuan itu serta Hiruma-san dan Miyuki-san duduk dibangku klub sedangkan aku membuat teh untuk semuanya.


 "Jadi,siapa namamu?" Tanya Hiruma-san.


 "Aku Shinomi Rena"


 "Baik jadi namamu Ren-chon ya?"


 "Ren-chon?!" Tanyanya karena terkejut


 "Kau lagi-lagi membuat nama panggilan yang aneh, oh iya kamu mau minta tolong mengenai apa?" Ucapku.


 "Aku ingin minta bantuan untuk mencarikan liontinku yang hilang"


 "Liontin?" Tanyaku.


 "Ya sebuah liontin berwarna merah, didalamnya terdapat sebuah foto yang penting bagiku"


 "Jadi begitu, baiklah kami akan membantu mencari liontinmu yang hilang"


 "Benarkah?"


 "Ya, benarkan Hiruma-san, Miyuki-san?"


 "Ya tentu, tapi aku mau tanya terlebih dahulu, kapan terakhir kali kau melihat liontinmu itu?" Tanya Hiruma-san.


 "Ehm...kalau tidak salah dikelasku".


 "Kelas? Kau kelas apa?"


 "Aku kelas 1-1"


 "Baiklah ayo kita cari liontinmu!"


 "Tunggu Hiruma-san, apa kau yakin kita tidak akan dibagi menjadi dua kelompok?"


 "Kelompok?"


 "Ya kau tau, jika kita dibagi menjadi dua kelompok bukankah itu akan membuat kita semakin cepat menemukanya, lagipula kita belum yakin kalau liontin miliknya hilang dikelas kan? Apalagi kita harus cepat menemukanya sebelum hari mulai gelap".


 "Kau benar juga, baiklah kalau begitu kau dan Ren-chon mencari liontinya di sekitar gedung sekolah sementara aku dan Kanna akan mencarinya di sekitar halaman depan dan belakang sekolah, bagaimana?"


 "Ya itu cukup bagus ayo"


 Kemudian kami berempat pergi keluar ruang klub dan memulai pencarianya.


 Aku dan Shinomi-san mulai mencari liontinya di kelas 1-1.


 "Hei Sato, kita harus memulainya dari mana?"


 "Entahlah, tapi mari kita cek didepan gerbang sekolah"


 "Ya baiklah"


 Hiruma-san dan Miyuki-san Mencarinya didalam semak-semak di dekat ketika Shinomi-chan terjatuh tadi.


 Namun Miyuki-san dan Hiruma-san tidak berhasil menemukan liontinya dalam kurun waktu yang cukup lama, dan juga hari sudah gelap tanpa mereka sadari.


 Saat sedang mencari, tiba-tiba muncul seekor tikus dari dalam semak, karena Miyuki-san takut dengan binatang-binatang semacam tikus, ia seketika terkejut dan terjatuh, namun Hiruma-san seketika langsung menyelamatkanya.


 "Apa disini kelasmu Shinomi-san?" Tanyaku yang saat itu berada di depan ruang kelas yang bertuliskan kelas 1-1.


 "Ya,ini kelasku, ayo kita masuk"


 Saat aku masuk disana aku melihat sebuah ruangan yang bersih serta penempatan benda-benda yang sangat rapih.


 "Ayo kita  mulai pencarianya Shinomi-san sebelum hari mulai gelap"


 "Baiklah, kau cari didepan sementara aku dibelakang."


 Kami terus mencarinya namun kami masih belum juga menemukan liontin tersebut.


 "Apa kau berhasil menemukan liontinmu Shinomi-san?"


 "Tidak, bagaimana denganmu?"


 "Aku juga tidak menemukanya, maaf"


 "Begitu ya, bagaimana ini padahal liontin itu sangat penting bagiku" rengek Shinomi-san kesedihan.


 "Eh! Kau jangan bersedih begitu, mari kita terus mencari, aku yakin kita akan berhasil menemukanya jika terus berusaha".


 "Ehm, baiklah"


 Walaupun aku berkata begitu, namun kami berdua masih belum menemukan apapun dan tanpa kusadari kalau hari sudah mulai gelap.


 Aku semakin kebingungan dan dicampur dengan rasa lelah, namun aku mengetahui kalau yang dialami Shinomi-san juga sama apalagi dicampur dengan perasaan sedih.


 Ketika aku mencarinya tiba-tiba terdengar suara tangisan, dan ketika kulihat aku menyadari kalau suara tangisan itu berasal dari Shinomi-san.


 "Bagaimana ini.....padahal....padahal itu adalah peninggalan terakhir dari orang tuaku.....padahal aku sudah berjanji untuk menjaganya namun aku malah menghilangkanya......" ucapnya sembari diringi dengan suara tangisan dan air mata yang berjatuhan.


 "Tenang saja, kalau kita terus berusaha, aku yakin kita akan menemukanya" ucapku sambil berharap kalau itu bisa menenangkanya dan juga sembari mengelus rambutnya dengan tanganku.


 Saat aku mengelus rambutnya aku merasakan ada benda sesuatu yang menempel di rambutnya.


 "Anu, Shinomi-san apa Liontinmu itu berwarna merah serta memiliki rantai yang berwana putih"


 "Ya...."


 "Apa itu ini?" Ucapku sembari memegang sebuah liontin yang sama dengan ciri-ciri yang dikatakan Shinomi-san.


 "Kau benar, dari mana kau menemukanya?"


 "Itu, aku menemukanya di rambutmu"


 "Rambutku?"


 "Ya aku menemukanya dirambut pendekmu, tadi rantai liontin ini terikat dengan helai helai rambutmu"


 "Begitukah?,terima kasih banyak!" Ucapnya sembari melompat kearahku dan memeluku hal itu membuatku seketika terjatuh kebawah.


 Aku menyuruhnya untuk bangun, kemudian aku membeli minuman di mesin penjual minuman yang kebetulan saat itu terketak di samping kelas 1-1.


 "Ini minuman untukmu" ucapku sembari menawarkan sebuah minuman rasa kopi susu.


 "Terimakasih, Hihihi...."


 "Hm, kau kenapa tertawa?"


 "Maaf, hanya saja aku berpikir kalau ini adalah yang kedua kalinya kau memberikanku minuman hari ini" ucapnya.


 "B-Begitukah?, ngomong-ngomong kenapa liontin itu bisa ada dirambutmu?"


 "Ah, aku baru ingat, mungkin liontin itu tersangkut saat aku mengganti pakaian olahraga pagi tadi".


 "Begitu"


 Saat kami sedang asik mengobrol tiba-tiba terdengar suara bel yang menunjukan kalau hari sudah menunjukan pukul 6 sore.


 "Gawat, sudah pukul 6 sore ayo kita pulang sebelum hari gelap Shinomi-san"


 "Ya ayo"


 "Kira-kira Hiruma-san dan Miyuki-san masih mencarinya tidak ya?"


 "Entahlah"


 Lalu kami bergegas keluar gedung sekolah, namun aku begitu terkejut karena diluar aku melihat Miyuki-san yang sedang menindih badan Hiruma-san layaknya seoang pangeran dan putrinya, dan juga entah kenapa saat aku melihatnya itu membuat hatiku.......



........serasa tidak nyaman.





》》{To be Continued.}《《







Terimakasih telah mendownload Light Novel "HimiGakusei chap.02" di Linovel, kunjungi terus www.Linovel-ID.Blogspot.com untuk menemukan update terbaru dari kami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar