Sabtu, 04 Maret 2017

I'll chapter 02 - Linovel



Type : Light novel

Judul : I'll 

Chapter : 02

Genre(s) : Drama, School

Author : 7E°

Date : 07-Februari-2017

 

--- 》》CHAPTER 02《《---

 

Namaku Aika Eiba, aku berumur 17 tahun di musim semi ini, tak banyak yang kusukai, tak banyak juga yang tidak kusukai, tetapi begitu banyak orang yang tidak menyukaiku.


 Salah satu yang kusukai sekarang ini adalah balon, balon yang mempunyai banyak warna adalah favoritku.



 Sementara itu, salah satu yang tidak aku sukai sekarang ini adalah kegelapan.



 Sedangkan orang yang membenciku saat ini begitu banyak jumlahnya, lalu, bagaimana jika aku beranggapan semua orang didunia ini membenciku?, jadi aku tidak perlu repot-repot mengelompokan mereka yang menyukaiku, dan mereka yang membenciku.



》》CHAPTER 02《《




 Pencuri?, siapa yang dia anggap pencuri?, aku sampai terkaget-kaget mendengarnya karena ia juga menelunjukan jarinya padaku.




 "Sekarang,,,,, kau tidak bisa lari kemana-mana lagi,,,,hah,,,,hah"




 Aku benar-banar tidak mengerti dengan apa yang dibicarakanya, apalagi aku juga bukanlah pencuri, walaupun memang benar aku pencuri, lalu apa yang kucuri darinya?, apa yang kucuri sampai sampai ia meyebutku pencuri?, cukup lama aku memikirkanya, sampai pada akhirnya aku sadar kalau aku sedang memegang tas yang bukan punyaku.



 Apa tas ini miliknya?, tapi bukankah tas ini kepunyaan laki-laki berkumis tadi.



 "Nyonya, apa yang kaukatakan barusan? Aku benar-benar tidak mengerti dengan hal yang tadi anda bicarakan" Aku bertanya padanya untuk memastikan.



 "Kau masih saja mengelak ya? Padahal sudah jelas bahwa kaulah yang mencuri tasku!" ucapnya sembari menunjuk tas yang kupegang ditanganku.



 Ternyata memang benar dugaanku, tapi, apa benar tas ini memang miliknya?.



 Kalau dipikir-pikir, memang tidak mungkin seorang laki-laki membawa tas semewah ini, apa laki-laki barusan mencuri tas ini darinya?, dan secara tidak sengaja aku memegang tas yang ia curi karena ia menjatuhkanya saat menabraku, oh,,,, akhirnya sekarang aku mengerti pokok kesalahpahaman ini.



 "Nyonya, ini buk----"



 Aku mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman ini, namun aku terdiam sejenak karena satu hal.



 Dia tiba-tiba mengambil sebuah handphone yang ia ambil dari belahan dadanya, bukan hanya itu, ia bahkan sedang menelpon polisi saat ini.



Pikirku saat itu adalah, Aku tidak ingin dipenjara, aku tidak ingin dipenjara hanya karena kesalahpahaman ini, jadi dengan reflek aku langsung mengambil handphone itu dari genggamnya, dan seketika langsung menonaktifkan panggilan tadi.



 "A-Apa yang kau lakukan, pencuri?!, tadi kau mencuri tasku, sekarang kau mau mencuri handphoneku juga?"



 Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya, pasalnya ia adalah tipe orang yang mudah berprasangka buruk.



 "Bukan begitu, makanya dengar dulu penjelasanku, bukan aku yang mencuri tas anda, aku mendapatkan tas ini dari seorang laki-laki yang tidak sengaja menjatuhkan tas ini, jadi aku hanya kebetulan memungutnya".



 "Benarkah?" Tanyanya belum percaya.



 "Ya"



 "Ehm memang benar sekilas aku melihat pencuri tadi seorang laki-laki, tapi, jangan-jangan perempuan itu salah satu komplotanya dan bekerja sama supaya dapat mengelabuiku, hehehe kau kira bisa membodohiku semudah itu?" Katanya dalam hati.



 Dia terdiam sejenak untuk beberapa waktu, namun setitik detik kemudian ia kembali bicara.



 "Baiklah aku percaya padamu!" Ucapnya.



 Aku begitu bahagia dan merasa cukup lega setelah ia mengatakan hal barusan.



 "Syukurlah, kalau begitu ini tas anda kan?" Ucapku sembari mengembalikan tas miliknya.



 Aku bersyukur dapat menyelesaikan masalah ini, akupun berjalan kembali ke bangunan tua tempat tinggalku dan hidup dengan tenang kembali, oh,,,,,atau mungkin tidak.



 Dia mengikutiku, ya, perempuan kaya tadi terus mengikutiku, sepertinya masalah ini masih belum selesai dan masih berlanjut.



 "Kau kira aku bisa percaya semudah itu?, hihihi tenang saja, pasti akan aku buktikan kalau kau adalah seorang pencuri" pikirnya dari kejauhan.



 Ya ampun sebenarnya apa yang dia pikirkan?!, itulah kata-kata yang terlintas dipikiranku.



 Sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini, sudah tersesat, aku juga diikuti oleh perempuan aneh yang senantiasa mengikutiku.



 Pikiranku benar-benar kacau sekaligus bingung pada saat itu, pasalnya aku sudah berjalan selama 30 menit guna mencari bangunan tua tadi, namun, tak kunjung membuahkan hasil, apalagi ditambah masalah yang ada dibelakang.



 Saat itu akupun memutuskan untuk satu-persatu membereskan masalah yang beruntun terjadi ini, pertama-tama aku harus melepaskan diri dari perempuan tadi, untuk itulah aku memutuskan untuk berlari secepat mungkin dan berharap semoga perempuan tersebut kelelahan dan kehilangan jejaku.



 "Dia berlari!" Ucapnya.



 Angin terus kuterjang, gedung-gedung pun telah aku lewati untuk kesekian kalinya.



 Aku terus berusaha berlari sekuat tenagaku, namun, ada satu masalah, perempuan yang mengejarku itu tidak tau kapan harus menyerah.



 Perempuan tersebut masih terus mengejarku meskipun aku tau dia sudah sangat kelelahan.



 Dan setelah beberapa menit ketika kami sampai disebuah jembatan, tiba-tiba sebuah kejadian menegangkan terjadi.



 Dia berlari terhuyung-huyung, yah mungkin itu terjadi karena tenaganya yang sudah habis, dia pun berlari tak tentu arah, dan seketika......



 "Byuarr........." ia terjatuh dari atas jembatan ke sebuah sungai yang ada dibawahnya.



 Ia hanyut seketika, apalagi saat itu arus sungai tersebut tengah deras-derasnya, orang-orang yang saat itu berada disekitar jembatan tersebut pun secara otomatis pandangan mereka tertuju padanya, bahkan ada juga orang yang teriak ketakutan.



 Aku heran karena tidak ada seorangpun yang berusaha menyelamatkan perempuan tersebut, jadi secara spontan aku langsung meloncat dari jembatan untuk nenyelamatkanya.



 Dari kejauhan kulihat ia sedang panik, kaki dan tanganya juga bergerak sangat kacau.



 Aku ingat betul saat itu air tersebut sangat dingin, tubuhku juga hampir beku karenanya, namun untunglah aku bisa menyelamatkan perempuan tersebut dan membawanya ketepi sungai.



 "Uhuk,,,,uhuk" ia batuk-batuk sesampainya ditepi, mungkin itu karena ia terlalu banyak menelan air.



 Tubuhnya juga gemetaran karena dinginya sungai, jadi langsung saja kulepas bajuku untuk menghangatkanya.

 "Nyonya, kau tidak apa-apa" tanyaku.



 "Ya, terimakasih telah menyelamatkanku" jawabnya



 "Tidak, lagipula setengahnya adalah kesalahanku" ucapku.



 "Omong-omong, Apa kau tidak apa-apa seperti itu?" Tanyanya tentang cara berpakaianku.



 "Ini? Tidak papa kok, aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin"



 "Bukan itu, maksudku apa kau tidak malu hanya memakai sebuah pakaian dalam saja?"



 Wajahku memerah seketika, aku bahkan baru sadar kalau aku sedang setengah telanjang saat ini.



 Bagaimana jika ada yang melihatku?, aku menjadi semakin malu saja ketika memikirkan hal tersebut.



 "Hehem,,, kau lucu sekali ya, ini" ucapnya sembari menyerahkan pakaianku.



 "Tapi, bagaimana dengan anda?".



 "Aku baik-baik saja kok, terimakasih telah menghawatirkanku".



 "Begitu, syukurlah".



 "Kau sangat baik juga ternyata, he~ bodohnya aku telah memangilmu seorang pencuri" ucapnya.



 Kurasa setelah ia mengatakan hal tersebut, telah membuat masalah pencuri ini terselesaikan, kali ini benar-benar telah selesai.



 "Omong-omong, apa kau tadi sebenarnya menyadari kalau aku sedang mengawasimu?".



 "Mana mungkin aku tidak menyadarinya?!, kau benar-benar tidak pandai dalam hal sembunyi!" Pikirku dalam-dalam.



 "Ya" jawabku.



 "Sial, padahal aku sudah berpikir kalau tadi aku sudah cukup pandai menyembunyikan kehadiranku".



 Aku hanya tersenyum ketika tadi ia mengatakan hal yang kuanggap sedikit lucu.



 Karena hari sudah menjelang sore, dan bajuku juga sudah cukup kering, akupun bergegas untuk pulang, namun ketika hendak berdiri aku baru ingat kalau masalahku yang satunya belum beres.



 "Oh".



 "Ada apa?" Tanyanya.



 "Aku baru ingat kalau aku sedang tersesat".



 "Eh! Kau tersesat?"



 "Ya"



 "Mau bagaimana lagi, ayo kita mencarinya" ajaknya.



 "Mencarinya? Bagaimana caranya?".



 "Bagaimana? Tentu saja bertanya pada orang-orang disekitar".



 Aku terdiam sejenak karena ucapanya, alasanya sederhana, itu karena aku sangat malu jika harus bertanya pada orang lain, apalagi pada orang yang tidak aku kenal.



 "Kau kenapa? Kalau kau tidak cepat, bisa-bisa keburu malam".



 "Ano,,,itu".



 "Ehm, jangan-jangan kau takut pada orang asing?".



 "Bukan begitu! Aku hanya malu".



 "Malu? Malu kenapa? Kita kan sesama manusia, jadi buat apa malu?".



 "Anda tidak tau masalahnya" ucapku.



 "Moh, sudah ikut saja!" Ucapnya sembari menarik tangan kananku.



 Tanganku ditariknya, dan kita mengelilingi kota Niigata sore itu.



 Gugup dan malu memenuhi pikiranku ketika bertanya dengan orang-orang disekeliling.



 Namun hal itu bertolak belakang dengan perempuan tersebut, ia bertanya dengan senyum lebar dan semangat yang membara.



 Namun berkatnyalah kami berhasil menemukan jalan yang benar sebelum langit biru digantikan peranya.



 "Syukurlah kita berhasil menemukan jalanya" ucapku.



 "Apa benar ini jalanya?" tanyanya memastikan.



 "Ya, oh terimakasih ya telah membantuku"



 "Tidak apa, lagipula tadi kau juga menyelamatkanku".



 "Anda ternyata orang yang baik ya" pujiku.



 "Aku memang selalu baik, memangnya kau tadi mengira aku orang yang bagaimana?" Tanyanya dengan nada menyombongkan diri.



 "Coba kuingat, kukira anda adalah orang yang mencurigakan, pengganggu, oh dan juga orang yang suka berprasangka buruk"



 "Kejam~"



 "Hihihi..." tawa kecilku.



 "Ah... aku baru ingat kalau kita belum berkenalan, Mitsuko hozuki, itu namaku" ucapnya.



 "Benar juga ya, namaku Aika eiba"



 "Aika-chan?, nama yang lucu".



 "Terimakasih, Hozuki-san".



 "Apa rumahmu masih jauh?" Tanyanya.



 "Sudah Deket kok, tinggal satu belokan lagi"



 "Begitu".



 Aku dan Hozuki-san akhirnya sudah sampai dibangunan tua semalam, sungguh senang rasanya ketika kembali lagi ke rumah tempat tinggalku ini.



 Aku ingin meluapkan kebahagian ini karena telah berhasil mengatasi satu persatu masalah yang terjadi, namun ketika aku memalingkan wajahku kearah Hozuki-san, aku melihat ia memasang muka terkejut, badanya membeku, mulutnya juga terbuka lebar. Ia begitu terkejut seakan-akan sedang melihat sebuah monster dihadapanya.



 》》CHAPTER 02 : PENGGANGGU 《《



→To be continued←



 Terimakasih telah membaca I'll chapter 02 ini >_<








Tidak ada komentar:

Posting Komentar