Type : Light novel
Judul : I'll
Chapter : 03
Genre(s) : Drama, School
Author : 7E°
Date : 15-Februari-2017
--- 》》Linovel ID《《---
Sore hari pukul 17:30 adalah saat dimana aku dan Hozuki-san sampai ditempat tinggalku.Ketika kami sampai, aku melihat Mulut Hozuki-san terbuka sangat lebar, matanya juga terkejut hingga tak berkedip.
Aku, Hozuki-san, serta langit jingga seketika larut dalam keheningan.
Namun beberapa menit kemudian ia berjalan menghampiriku, dengan wajah yang tertunduk kebawah, ia memegang kedua bahuku.
Aku dibuat bingung oleh tingkah lakunya yang aneh, karena itulah aku mencoba bertanya tentang keadaanya, namun belum sempat aku melakukanya, tiba-tiba ia berteriak mendahuluiku.
Ia berteriak dengan kerasnya tepat kemukaku, bahkan ia melakukanya dengan suara yang teramat keras.
"Kau tinggal di tempat seperti ini?!" Teriaknya.
Lagi-lagi aku dibuat tersentak olehnya, aku juga merasa membeku sebentar karena pertanyaan yang dilayangkan tersebut.
"Eh?!-------- A-apa maksud anda?"
"Maksudku, kau tinggal ditempat kumuh begini?!"
Sekarang aku sudah mengerti alasan dibalik tingkah aneh Hozuki-san.
"Ya" jawabku singkat sembari memalingkan wajahku.
"Kenapa?!" Tanyanya lagi.
"Itu....."
Aku merasa tak bisa terus menjawab semua pertanyaanya, karena itulah aku merasa bingung setiap kali ia melakukan hal tersebut.
"Kenapa kau diam Aika-chan?, tolong jawab aku!, kenapa seorang gadis muda sepertimu tinggal ditempat seperti ini?!"
Ia terus saja bertanya padaku, bahkan kali ini ia melakukanya sembari mendorong-dorong bahuku.
"Hei Aika-chan, jawablah! Aika-chan!"
Ia masih terus memaksaku untuk menjawabnya, hingga akhirnya Aku merasa frustasi karena sikap keras kepalanya.
"Memangnya kau siapa?!" ucapku kesal.
"Aika-chan......"
"Aku tanya sekali lagi!, memangnya kau siapanya diriku?!, siapa dirimu sampai-sampai mengkhawatirkanku begitu?!,... Perlu kau ketahui, kau itu hanyalah orang asing bagiku!, kau hanyalah orang asing yang kebetulan lewat didepanku!, kau bukan orang tuaku!, kau juga bukan keluargaku!, jadi, berhentilah ikut campur dengan kehidupanku! Mau aku tinggal dimanapun, bukankah itu tidak ada hubunganya denganmu?!,.karena itulah............... tolong jangan ikut campur urusanku......kumohon....hiks.....hiks....."
Teriakanku tak kuasa kubendung, begitu pula dengan air mataku yang terus menetes keluar.
Hujanpun turun bersamaan dengan Air mataku, sementara itu, Hozuki-san hanya terpaku tak bergerak.
Sungguh sakit rasanya ketika aku harus melampiaskan kesepianku pada orang yang tidak bersalah.
Kami terdiam cukup lama, aku juga sudah merasakan perih dimataku, apalagi ditambah suasana yang sangat canggung.
Karena malu menatap wajahnya, akupun hendak berlari untuk menghindarinya, namun baru saja aku berbalik badan, tiba-tiba ia menarik tanganku dan didekapkan tubuhku di pelukanya
Ditengah derasnya hujan, aku pun dipeluknya dengan erat, awalnya aku merasa terkejut, namun setelah beberapa saat akhirnya aku mengerti alasan dibalik hal yang dilakukanya tersebut.
Sungguh nyaman dan hangat kurasakan ketika dipeluknya, saat itupun aku tersadar kalau aku sudah sangat lama tidak merasakan perasaan tersebut.
"Dengar Aika-chan, aku memang bukan orang tua serta keluargamu, tapi, aku sangat peduli padamu, aku hanya tidak ingin orang yang telah menyelamatkan hidupku tinggal di tempat seperti ini"
Suaranya yang begitu halus itu seketika langsung menggetarkan hatiku, tanganya juga sangat lembut ketika menyentuh kepalaku.
"Maaf....... hiks.... Maafkan aku...... maafkan aku karena telah berteriak kepadamu......hiks.....hiks.....".
"Ya, aku juga minta maaf karena telah memaksamu menjawab pertanyaanku"
Aku sungguh sangat senang dan bahagia karena telah berbaikan dengan Hozuki-san.
Karena hujan bertambah deras, aku pun mengajak masuk Hozuki-san kedalam tempat tinggalku.
Ketika kami masuk, ia pun kembali terkejut karena telah menjumpai sebuah ruangan yang berdebu dan teramat kotor.
"Maaf ya, aku tidak punya kopi untuk anda" ucapku.
"Tidak papa kok, ngomong-ngomong apa kau benar-benar tinggal disini?" Tanyanya sembari melihat sekeliling ruangan.
"Ya, apa itu aneh?"
"Tentu saja!"
"Hihihi..." tawaku.
"Apa? Ternyata kau juga bisa tertawa ya?" Ledeknya.
"A-aaaa.... T-Tentu saja" jawabku malu.
"Hihihi..... oh iya, dimana orang tuamu?"
Aku terdiam sejenak karena pertanyaanya, yah lagipula itu juga kesempatan bagiku untuk mengambil nafas.
"Mereka sedang mendoakanku lho" ucapku dengan senyuman.
"Benarkah?, di kuil mana mereka berdoa?".
"Mereka tidak berdoa dikuil".
"Lantas dimana mereka berdoa?".
"Di langit!" Ucapku lagi dengan senyuman.
"M-Maaf.....Aika-chan..." ucapnya sembari mengelus punggungku.
"Tenang saja, lagipula aku juga sudah melupakanya".
Kami mengobrol hingga tengah malam, walaupun saat itu sedang hujan, anehnya aku tidak merasa kedinginan sedikitpun.
Sungguh sangat nyaman suasana pada malam itu, hingga akhirnya kami pun tertidur dengan pulasnya.
***
"Itu dia!"
Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar, teriakan tersebut juga yang sekaligus membangunkanku.
"Ada apa, Hozuki-san?" Tanyaku walaupun masih setengah tidur.
"Itu dia Aika-chan..... itu dia!"
Dia melompat dan tertawa tanpa sebab yang jelas.
"Apa?" Tanyaku bingung.
"Itu dia!, bagaimana kalau kau menjadi anak angkatku saja?" Ucapnya sembari memeluk tubuhku.
"Eh......EHHHH.........!!!" Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakanya, bahkan dari semuanya, hal inilah yang paling membuatku terkejut.
"Apa maksudmu?!" Tanyaku.
"Maksudku, aku akan mengadopsimu menjadi anak angkatku".
"Tunggu, kenapa tiba-tiba begini?!'
"Kenapa tidak, lagipula kau juga tidak punya orang tua dan keluarga kan?".
"Memang sih, tapi ini begitu mendadak".
"Ayolah kau tidak usah malu-malu begitu" ucapnya.
"Tapi......" ucapku bingung.
"Sudahlah cepat kemasi barang-barangmu dan kita berangkat kerumahku" ucapnya sembari menarik tanganku.
Aku pun mulai mengemasi barang-barangku, yah meskipun saat itu aku masih belum yakin sepenuhnya.
Saat aku sedang bersiap-siap, dari kejauhan aku melihat Hozuki-san sedang menelepon seseorang.
"Ano...." undangku.
"Oh kau sudah selesai?" ucapnya sembari mematikan panggilanya.
"Ya".
"Kalau begitu tunggulah sebentar dulu".
Saat itu Aku tidak tau kenapa aku harus menunggu dan apa yang kita tunggu.
"Hozuki-san, apa ini tidak apa-apa?" Tanyaku.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, bukankah seharusnya kau minta ijin kepada suami atau anak-anakmu dulu sebelum memutuskan untuk mengadopsiku?".
"Kalau itu tenang saja, aku kan tidak punya seorang suami maupun anak" ucapnya tersenyum.
"Oh.....EH?!"
"Kenapa kau terkejut begitu?" Tanyanya.
"Tidak, tidak apa-apa kok" ucapku berbohong.
Cukup lama kami menunggu, hingga beberapa saat kemudian datang 4 buah mobil mewah yang dikendarai oleh orang-orang yang mengenakan jas hitam.
"Akhirnya datang juga!" Teriak Hozuki-san.
Ketika mobil tersebut sepenuhnya berhenti, tiba-tiba semua orang berjas hitam tersebut berbaris rapih tepat dihadapan kami.
"Selamat pagi, nyonya!, Putri!" Teriak semua orang berjas hitam tersebut dengan serentak.
"Eh?!" Ucapku dengan mimik terkejut.
"Pagi" ucap Hozuki-san.
Belum sempat aku menenangkan diri, tiba-tiba salah satu dari pria berjas hitam tersebut menghampiri kami.
"Selamat pagi, nyonya".
"Pagi, Ryouchi-kun".
"Apa dia anak yang anda bicarakan tadi?".
"Ya".
"Begitu, kalau begitu namaku Ryouchi Himura, aku adalah salah satu pelayan Hozuki-sama" ucapnya dengan ekspresi tersenyum.
"Ah.....aku Aika eiba, salam kenal" balasku.
"Nama yang lucu, Aika-sama" ucapnya lagi.
'Aika-sama?!' Kagetku dalam hati.
"Kalau begitu, silahkan masuk kedalam mobil" ucap orang bernama Ryouchi tersebut sembari membukakan salah satu pintu mobil.
"Terima kasih, Ryouchi-kun, kalau begitu ayo masuk Aika-chan" ajak Hozuki-san.
"Eh masuk? Maksud anda masuk kedalam mobil?" Tanyaku.
"Ya, memangnya kenapa?".
"Tidak, hanya saja aku belum pernah naik mobil sebelumnya".
"Begitu, tenang saja kau tidak usah takut, aku ada bersama kok" ucapnya lagi.
"Ehm.... baiklah".
Aku pun memasuki mobil tersebut bersamaan Hozuki-san, dan yang kurasakan pertama kali adalah sebuah temperatur dingin yang berasal dari AC.
Ketika mobil kami mulai berjalan, aku merasakan sebuah perasaan tegang sekaligus sedikit merinding, namun, ketika aku melihat pemandangan di luar mobil, perasaan tersebut seakan-akan menghilang termakan keindahan kota Niigata.
"Dia orang yang baik ya" ucapku.
"Maksudmu Ryouchi?" Tanya Hozuki-san.
"Ya"
"Ya, dia memang orang baik, karena itulah dia menjadi tangan kananku, namun tahu tidak Aika-chan, dia seumuranmu lho"
"Oh....pantas saja dia terlihat lebih muda dibandingkan yang lainya".
"Kenapa kau tertarik padanya? Jangan-jangan kau....." ucap Hozuki-san dengan nada meledeknya.
"Tentu saja tidak!" Bantahku.
"Hihihi.....kau sangat lucu Aika-chan".
"Moh.... jangan menggodaku terus".
"Ngomong-ngomong, rumah anda dimana?" Tanyaku.
"Tokyo"
"Eh, tokyo?, tokyo yang itu?"
"Ya"
"Begitu, pasti akan sangat lama ya perjalanan ini" ucapku.
"Tidak selama itu kok".
***
Benar saja perjalanan kami pun berlangsung lama, ketika aku sudah dibatas kebosananku, tiba-tiba mobil kami berhenti.
"Kenapa berhenti? apa sudah sampai?" Tanyaku.
"Ya, turunlah Aika-chan" Jawab Hozuki-san.
"Begitu, syukurlah".
Aku pun turun dari mobil, namun betapa terkejutnya aku karena mendapati sebuah rumah berwarna putih yang teramat sangat besar, apa ini rumah Hozuki-san? Kalau benar ini adalah rumah Hozuki-san, itu berarti dia sangat kaya, bagaimana tidak, itu karena rumah yang kulihat ini lebih mirip disebut istana dibandingkan rumah biasa.
》》CHAPTER 03 : SENYUMAN DAN AIR MATA《《
→To be continued←
Terimakasih telah membaca I'll chapter 03 ini >_<

Tidak ada komentar:
Posting Komentar