Kamis, 09 Maret 2017

I'll chapter 04 - Linovel

Type : Light novel

Judul : I'll

Chapter : 04

Genre(s) : Drama, School

Author : 7E°

 Date : 20-Februari-2017

 

---》》Linovel ID《《---





 Ketika malam datang, aku merasakan sebuah perasaan sedih yang menyelimuti.


 Saat garis-garis bergelombang sudah sepenuhnya menjadi satu garis lurus, saat itulah seorang wanita berbaju putih memeluku dengan erat.


 Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi, yang aku pahami hanyalah orang-orang berbaju putih itu terus saja memeluku dengan air matanya yang menetes.



 》》CHAPTER 04《《




 Aku terperangah melihat besarnya rumah yang ada dihadapanku, apa benar ini rumah Hozuki-san?.


 Saat aku masih dalam keadaan kebingungan, tiba-tiba orang yang bernama Ryouchi itu kembali menghampiriku.


 "Aika-sama, kenapa kau diam saja disitu? Cepatlah masuk kedalam rumah".


 "Y-Ya".


 Ternyata dugaanku benar kalau rumah ini adalah rumah milik Hozuki-san.


 Saat aku baru membuka pintu rumah tersebut, tiba-tiba saja suara orang-orang yang berjas hitam kembali menyambut kami.


 "Selamat datang! Hozuki-sama, Aika-sama"


 Aku terkejut bukan main karena suara yang dihasilkan mereka sangat keras.


 Kami pun kembali berjalan dengan melewati orang-orang yang berbaris rapih tersebut.


 Karena rumahnya yang sangat luas, akhirnya kami pun memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di ruang tamu, namun aku kembali terkejut ketika melihat sekeliling ruang tamu yang menurutku sangat mewah tersebut.


 Tv yang sangat besar, kursi-kursi berwarna emas, serta lampu yang dihiasi berlian tersusun sangat rapih diruang tamu milik Hozuki-san.


 "Bagaimana menurutmu, Aika-chan?" Ucap Hozuki-san.


 "Bagaimana? Ehm bagaimana ya.........menurutku rumahmu sangat mewah".


 "Syukurlah kalau kau suka, oh iya bagaimana kalau kau dan Ryouchi-kun berkeliling melihat sekitar rumah".


 "Eh....Ber-Berdua?" Tanyaku terkejut.


 "Ya, apa kau tidak mau?"


 "Bukan begitu....hanya saja....".


 "Kau malu?" Ledek Hozuki-san.


 "Tentu saja tidak!, hanya saja badanku terasa sangat lengket, jadi kupikir aku akan mandi terlebih dahulu".


 "Oh benar juga, kalau begitu ryouchi-kun, tolong antar Aika-chan kekamar mandi".


 "Baiklah Hozuki-sama, mari lewat sini Aika-sama"


 "Eh....diantar?!"


 "Ya, atau kau mau sendirian kekamar mandinya?" Ucap Hozuki-san.


 Aku sangat tahu kalau saat itu Hozuki-san sedang mempermainkanku, dia memanfaatkan keadaanku yang tidak tahu arah kekamar mandinya, hal itu semata-mata hanya ingin membuatku malu.


 "Baiklah aku ikut" ucapku dengan terpaksa.


 Lalu Ryouchi pun mengantarku kekamar mandi, sementara itu aku berjalan dibelakangnya.


 Ketika sampai di kamar mandi, aku melihat sebuah bak yang sangat besar dan juga sebuah shower di sampingnya.


 Aku pun masuk kekamar mandi, sedangkan Ryouchi-kun tengah menungguku diluar.


 Kesan yang aku dapatkan tentang kamar mandi ini yaitu bersih dan sangat wangi ketika pertama kali memasukinya.


 Setelah selesai mandi aku pun diantar kekamarku oleh Ryouchi-kun.


 Saat masuk kedalam kamarku, aku mendapati sebuah ruangan yang sangat luas serta kasur yang cukup besar tengah terletak didalamnya.


 Aku pun disambut kembali oleh para pelayan Hozuki-san, namun kali ini bukan pelayan lelaki, melainkan 2 pelayan perempuan.


 "Anda sudah selesai mandi, Aika-sama?".


 "Y-ya"


 "Kalau begitu kami akan memakaikan anda baju yang telah Hozuki-sama siapkan".


 "Eh?... memakaikanku baju?" Tanyaku terkejut.


 "Ya, anda tidak usah khawatir, Michiru dan aku sudah terlatih kok" ucap pelayan berambut coklat.


 "Benar kata Chinatsu, jadi tenang saja" balas pelayan berambut hitam.


 "Bukan itu masalahnya.....".


 Dengan terpaksa aku pun rela dipakaikan baju oleh mereka, namun aku begitu terkejut karena ternyata baju yang kupakai adalah baju...............


 ..........Mahou shoujo.


 "Anu.....kenapa aku memakai baju yang aneh begini?"


 Meskipun aku bertanya pada mereka, namun tidak ada satupun yang menjawabnya, orang bernama Chinatsu itu hanya terdiam dengan muka merah tomatnya dan hidung yang mimisan, sedangkan yang bernama Michiru tengah asik memotret setiap lekukan tubuhku, mulai saai itulah aku mengetahui kalau pelayan-pelayan perempuan ini memiliki sifat yang aneh.


 Karena tidak ada satupun yang menyahut pertanyaanku, aku pun memutuskan untuk bertanya langsung pada Hozuki-san.


 "Aika-sama, anda mau kemana?!" Ucap Chinatsu.


 "Oh...aku mau ke kamar Hozuki-san".


 "Jangan!" Larang mereka berdua dengan serentak.


 "Kenapa?".


 "Karena....karena kami masih belum puas menikmati tubuh anda!"


 "Duar!" Ditutupnya pintu tersebut olehku, setelah itupun aku bergegas menemui Hozuki-san dikamarnya untuk komplain tentang hal yang terjadi saat ini.


 "Yah....dia pergi" ucap Chinatsu.


 "Itu salahmu" balas Michiru.


 "Eh...kenapa kau menyalahkanku?, ngomong-ngomong apa Aika-sama tahu dimana letak kamar Hozuki-sama?".


 "Entahlah".


 Awalnya aku memang berniat untuk bertemu dengan Hozuki-san, namun apesnya aku malah tersesat.


 Aku tersesat entah dimana, namun yang jelas aku tengah berada disebuah halaman luar yang ditumbuhi banyak bebungaan.


 "Apa ini taman ya?" Tanyaku dalam hati.


 Aku memutuskan untuk melihat sekeliling taman tersebut, sungguh sangat banyak sekali bunga-bunga yang ada ditaman tersebut, namun ada satu hal yang membuatku heran, yaitu seluruh bunga yang tumbuh ditaman tersebut, semuanya berwarna putih.


 Kenapa seluruh bunga ditaman tersebut berwarna putih? Apakah Hozuki-san sangat meyukai warna tersebut?, Pikirku.


 Ketika tengah asik melihat sekeliling, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang memanggilku.


 "Aika-sama?, sedang apa anda disitu?"


 "Oh....Ryouchi, aku sedang melihat-lihat bunga disini" Jawabku.


 "Melihat bunga? Apa anda menyukai bunga?"


 "Tidak juga sih, aku awalnya mau ketempat Hozuki-san, tapi aku justru tersesat ditempat seperti ini".


 "Oh kau mau ketempat Hozuki-sama? Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu".


 "Apa kau tidak keberatan?".


 "Anda ini bagaimana sih, tugas seorang pelayan kan memang harus membantu tuan mereka".


 "Eh?! Aku tuanmu?"


 "Ya".


 "Dengar ya Ryouchi, pertama aku bukan tuanmu, kedua aku tidak mau kau berbicara dengan formal padaku, toh kita kan seumuran, jadi lebih baik kita berbicara layaknya yang dilakukan sesama teman, oh dan juga yang terakhir aku tidak mau kau memanggil namaku dengan imbuhan '-sama', kau mengerti?".


 "Ya, Aika-sama".


 "Ryouchi.....".


 "Maaf maksudku, aku mengerti Aika-chan".


 "Ya, kurasa aku lebih menyukai panggilan tersebut, ngomong-ngomong apa kau jadi mengantarkanku ke tempat Hozuki-san?".


 "Benar juga, kalau begitu mari" ucapnya sembari berjalan.


 Kami pun berjalan bersama ke tempat Hozuki-san.


 "Hei Ryouchi, apa kau tau sesuatu mengenai taman barusan?".


 "Ya, taman itu adalah tempat kesukaan Hozuki-sama dirumah ini, kalau tidak salah dia menyebut taman tersebut dengan sebutan 'Shiro yume'".


 "Eh..... kalau begitu apa kau tau alasan semua bunga ditaman tersebut berwarna putih?"


 "Kalau itu bakan Hakku untuk menceritakan-nya padamu, kalau mau tahu tanya langsung saja kepada Hozuki-san, tapi aku menyarankanmu untuk tidak bertanya padanya saat ini, kau mengerti Aika-chan?" Ucapnya sembari tersenyum.


 "Y-ya" jawabku malu


 "Ngomong-ngomong aku dari tadi kepikiran tentang hal ini, kenapa kau memakai baju seperti itu?".


 "Tolong jangan bahas itu.....".


 "Kenapa? Kau imut kok"


 "T-Ttt-Tolong jangan menggodaku!"


 "Eh?!... tapi itu memang benar kok".


 "Cukup Ryouchi, kau menyebalkan!" Teriaku malu.


 "Hehehe, ya,ya~"


 Kami pun melanjutkan jalan kami, dan beberapa saat kemudian aku pun akhirnya sampai di kamar Hozuki-san.


 "Sudah sampai Aika-chan".


 "Ya, terimakasih Ryouchi".


 "Kalau begitu, aku pergi dulu ya" ucapnya sembari pergi meninggalkanku.


 "Ya".


 Setelah itu pun aku masuk kedalam kamar Hozuki-san, disana aku mendapati bahwa ia sedang membaca beberapa kertas dimejanya.


 "Hozuki-san!, kenapa kau memakaikanku baju aneh begini?!".


 "Oh....Aika-chan, kau cantik sekali" ucapnya sembari berdiri dari tempat duduknya.


 "Bukan itu yang aku tanyakan!"


 "Memangnya kenapa? Kau terlihat cantik kok, lagipula kau juga menyukainya kan?"


 "Siapa bilang!"


 "Kalau begitu kenapa kau tidak mengganti bajumu kembali?" Tanyanya sembari mengacungkan jari telunjuknya.


 "Eh...Eh....Eh...."


 "Aika-chan....".


 "EH!!, Kenapa aku tidak terpikirkan akan hal itu?!".


 "Hihihi, kau itu lucu sekali ketika sedang panik".


 "Bodohnya aku....." eluhku.


 "Kau itu, ini pakailah baju miliku" ucapnya sembari memberiku sebuah baju berwarna kuning.


 "Ah, terimakasih, kalau begitu aku mau ganti baju dulu, jadi anda keluarlah dulu sebentar".


 "Eh?, kenapa aku harus keluar? Kita kan sesama perempuan"


 "Bukan itu masalahnya, pokoknya cepatlah keluar" ucapku sembari mengusirnya.


 "Uh pelit~" ucapnya dari luar pintu.


 Aku pun mulai melepas baju mahou shoujo tersebut dan menggantinya dengan pakaian normal pemberian dari Hozuki-san.


 "Aika-chan, apa kau sudah selesai?".


 "Ya, anda boleh masuk".


 Hozuki-san pun masuk kembali ke kamarnya.


 "Wah, kau cantik sekali, kau itu memang sangat cocok dengan baju apapun ya?"


 "Jangan menggodaku...".


 "Siapa yang sedang menggodamu? Kau memang cantik kok, apalagi jika rambut panjangmu itu dipotong".


 Aku terdiam sejenak karena perkataanya yang sedikit menggangguku tersebut.


 "Apa maksudmu?, kau jangan berani-beraninya memotong rambutku, ingat itu!, aku sangat menyayangi rambut panjangku ini, jadi aku pasti akan sangat marah jika kau memotong rambutku ini, kau mengerti?!" Bentaku.


 "Ya,ya" jawabnya santai seakan-akan hanya mengaggap perkataanku sebagai bahan candaan.


 "Pokoknya ingatlah itu! Kalau begitu aku pamit untuk kembali kekamar".


 "Ya, tapi apa kau tahu jalanya?".


 "T-Tentu saja tahu, bodoh!" Jawabku malu sembari meninggalkan ruangan tersebut.


 "Dia itu......memang sangat lucu ketika sedang malu".


 Kemudian aku pun kembali kekamarku, namun ada satu hal yang tidak aku ketahui, yaitu aku tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan betul oleh Hozuki-san saat ini, jika saja aku mengetahui hal itu, sudah pasti esok yang gelap tidak akan pernah terjadi, namun sayangnya, aku tidak mengetahui hal itu sedikitpun.



 》》CHAPTER 04 : ORANG KAYA《《




 →To be continued←


 Terimakasih telah membaca I'll chapter 04 ini >_<










I'll chapter 03 - Linovel

Type : Light novel

Judul : I'll

Chapter : 03

Genre(s) : Drama, School

Author : 7E°

Date : 15-Februari-2017

 

 

--- 》》Linovel ID《《---

 Sore hari pukul 17:30 adalah saat dimana aku dan Hozuki-san sampai ditempat tinggalku.


 Ketika kami sampai, aku melihat Mulut Hozuki-san terbuka sangat lebar, matanya juga terkejut hingga tak berkedip.



 Aku, Hozuki-san, serta langit jingga seketika larut dalam keheningan.



 Namun beberapa menit kemudian ia berjalan menghampiriku, dengan wajah yang tertunduk kebawah, ia memegang kedua bahuku.



 Aku dibuat bingung oleh tingkah lakunya yang aneh, karena itulah aku mencoba bertanya tentang keadaanya, namun belum sempat aku melakukanya, tiba-tiba ia berteriak mendahuluiku.



 Ia berteriak dengan kerasnya tepat kemukaku, bahkan ia melakukanya dengan suara yang teramat keras.



 "Kau tinggal di tempat seperti ini?!" Teriaknya.



 Lagi-lagi aku dibuat tersentak olehnya, aku juga merasa membeku sebentar karena pertanyaan yang dilayangkan tersebut.



 "Eh?!-------- A-apa maksud anda?"



 "Maksudku, kau tinggal ditempat kumuh begini?!"



 Sekarang aku sudah mengerti alasan dibalik tingkah aneh Hozuki-san.



 "Ya" jawabku singkat sembari memalingkan wajahku.



 "Kenapa?!" Tanyanya lagi.



 "Itu....."



 Aku merasa tak bisa terus menjawab semua pertanyaanya, karena itulah aku merasa bingung setiap kali ia melakukan hal tersebut.



 "Kenapa kau diam Aika-chan?, tolong jawab aku!, kenapa seorang gadis muda sepertimu tinggal ditempat seperti ini?!"



 Ia terus saja bertanya padaku, bahkan kali ini ia melakukanya sembari mendorong-dorong bahuku.



 "Hei Aika-chan, jawablah! Aika-chan!"



 Ia masih terus memaksaku untuk menjawabnya, hingga akhirnya Aku merasa frustasi karena sikap keras kepalanya.



 "Memangnya kau siapa?!" ucapku kesal.



 "Aika-chan......"



 "Aku tanya sekali lagi!, memangnya kau siapanya diriku?!, siapa dirimu sampai-sampai mengkhawatirkanku begitu?!,... Perlu kau ketahui, kau itu hanyalah orang asing bagiku!, kau hanyalah orang asing yang kebetulan lewat didepanku!, kau bukan orang tuaku!, kau juga bukan keluargaku!, jadi, berhentilah ikut campur dengan kehidupanku! Mau aku tinggal dimanapun, bukankah itu tidak ada hubunganya denganmu?!,.karena itulah............... tolong jangan ikut campur urusanku......kumohon....hiks.....hiks....."



 Teriakanku tak kuasa kubendung, begitu pula dengan air mataku yang terus menetes keluar.



 Hujanpun turun bersamaan dengan Air mataku, sementara itu, Hozuki-san hanya terpaku tak bergerak.



 Sungguh sakit rasanya ketika aku harus melampiaskan kesepianku pada orang yang tidak bersalah.



 Kami terdiam cukup lama, aku juga sudah merasakan perih dimataku, apalagi ditambah suasana yang sangat canggung.



 Karena malu menatap wajahnya, akupun hendak berlari untuk menghindarinya, namun baru saja aku berbalik badan, tiba-tiba ia menarik tanganku dan didekapkan tubuhku di pelukanya



 Ditengah derasnya hujan, aku pun dipeluknya dengan erat, awalnya aku merasa terkejut, namun setelah beberapa saat akhirnya aku mengerti alasan dibalik hal yang dilakukanya tersebut.



 Sungguh nyaman dan hangat kurasakan ketika dipeluknya, saat itupun aku tersadar kalau aku sudah sangat lama tidak merasakan perasaan tersebut.



 "Dengar Aika-chan, aku memang bukan orang tua serta keluargamu, tapi, aku sangat peduli padamu, aku hanya tidak ingin orang yang telah menyelamatkan hidupku tinggal di tempat seperti ini"



 Suaranya yang begitu halus itu seketika langsung menggetarkan hatiku, tanganya juga sangat lembut ketika menyentuh kepalaku.



 "Maaf....... hiks.... Maafkan aku...... maafkan aku karena telah berteriak kepadamu......hiks.....hiks.....".



 "Ya, aku juga minta maaf karena telah memaksamu menjawab pertanyaanku"



 Aku sungguh sangat senang dan bahagia karena telah berbaikan dengan Hozuki-san.



 Karena hujan bertambah deras, aku pun mengajak masuk Hozuki-san kedalam tempat tinggalku.



 Ketika kami masuk, ia pun kembali terkejut karena telah menjumpai sebuah ruangan yang berdebu dan teramat kotor.



 "Maaf ya, aku tidak punya kopi untuk anda" ucapku.



 "Tidak papa kok, ngomong-ngomong apa kau benar-benar tinggal disini?" Tanyanya sembari melihat sekeliling ruangan.



 "Ya, apa itu aneh?"



 "Tentu saja!"



 "Hihihi..." tawaku.



 "Apa? Ternyata kau juga bisa tertawa ya?" Ledeknya.



 "A-aaaa.... T-Tentu saja" jawabku malu.



 "Hihihi..... oh iya, dimana orang tuamu?"



 Aku terdiam sejenak karena pertanyaanya, yah lagipula itu juga kesempatan bagiku untuk mengambil nafas.



 "Mereka sedang mendoakanku lho" ucapku dengan senyuman.



 "Benarkah?, di kuil mana mereka berdoa?".



 "Mereka tidak berdoa dikuil".



 "Lantas dimana mereka berdoa?".



 "Di langit!" Ucapku lagi dengan senyuman.



 "M-Maaf.....Aika-chan..." ucapnya sembari mengelus punggungku.



 "Tenang saja, lagipula aku juga sudah melupakanya".



 Kami mengobrol hingga tengah malam, walaupun saat itu sedang hujan, anehnya aku tidak merasa kedinginan sedikitpun.



 Sungguh sangat nyaman suasana pada malam itu, hingga akhirnya kami pun tertidur dengan pulasnya.



 ***



 "Itu dia!"



 Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar, teriakan tersebut juga yang sekaligus membangunkanku.



 "Ada apa, Hozuki-san?" Tanyaku walaupun masih setengah tidur.



 "Itu dia Aika-chan..... itu dia!"



 Dia melompat dan tertawa tanpa sebab yang jelas.



 "Apa?" Tanyaku bingung.



 "Itu dia!, bagaimana kalau kau menjadi anak angkatku saja?" Ucapnya sembari memeluk tubuhku.



 "Eh......EHHHH.........!!!" Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakanya, bahkan dari semuanya, hal inilah yang paling membuatku terkejut.



 "Apa maksudmu?!" Tanyaku.



 "Maksudku, aku akan mengadopsimu menjadi anak angkatku".



 "Tunggu, kenapa tiba-tiba begini?!'



 "Kenapa tidak, lagipula kau juga tidak punya orang tua dan keluarga kan?".



 "Memang sih, tapi ini begitu mendadak".



 "Ayolah kau tidak usah malu-malu begitu" ucapnya.



 "Tapi......" ucapku bingung.



 "Sudahlah cepat kemasi barang-barangmu dan kita berangkat kerumahku" ucapnya sembari menarik tanganku.



 Aku pun mulai mengemasi barang-barangku, yah meskipun saat itu aku masih belum yakin sepenuhnya.



 Saat aku sedang bersiap-siap, dari kejauhan aku melihat Hozuki-san sedang menelepon seseorang.



 "Ano...." undangku.



 "Oh kau sudah selesai?" ucapnya sembari mematikan panggilanya.



 "Ya".



 "Kalau begitu tunggulah sebentar dulu".



  Saat itu Aku tidak tau kenapa aku harus menunggu dan apa yang kita tunggu.



 "Hozuki-san, apa ini tidak apa-apa?" Tanyaku.



 "Apa maksudmu?"



 "Maksudku, bukankah seharusnya kau minta ijin kepada suami atau anak-anakmu dulu sebelum memutuskan untuk mengadopsiku?".



 "Kalau itu tenang saja, aku kan tidak punya seorang suami maupun anak" ucapnya tersenyum.



 "Oh.....EH?!"



 "Kenapa kau terkejut begitu?" Tanyanya.



 "Tidak, tidak apa-apa kok" ucapku berbohong.



 Cukup lama kami menunggu, hingga beberapa saat kemudian datang 4 buah mobil mewah yang dikendarai oleh orang-orang yang mengenakan jas hitam.



 "Akhirnya datang juga!" Teriak Hozuki-san.



 Ketika mobil tersebut sepenuhnya berhenti, tiba-tiba semua orang berjas hitam tersebut berbaris rapih tepat dihadapan kami.



 "Selamat pagi, nyonya!, Putri!" Teriak semua orang berjas hitam tersebut dengan serentak.



 "Eh?!" Ucapku dengan mimik terkejut.



 "Pagi" ucap Hozuki-san.



 Belum sempat aku menenangkan diri, tiba-tiba salah satu dari pria berjas hitam tersebut menghampiri kami.



 "Selamat pagi, nyonya".



 "Pagi, Ryouchi-kun".



 "Apa dia anak yang anda bicarakan tadi?".



 "Ya".



 "Begitu, kalau begitu namaku Ryouchi Himura, aku adalah salah satu pelayan Hozuki-sama" ucapnya dengan ekspresi tersenyum.



 "Ah.....aku Aika eiba, salam kenal" balasku.



 "Nama yang lucu, Aika-sama" ucapnya lagi.



 'Aika-sama?!' Kagetku dalam hati.



 "Kalau begitu, silahkan masuk kedalam mobil" ucap orang bernama Ryouchi tersebut sembari membukakan salah satu pintu mobil.



 "Terima kasih, Ryouchi-kun, kalau begitu ayo masuk Aika-chan" ajak Hozuki-san.



 "Eh masuk? Maksud anda masuk kedalam mobil?" Tanyaku.



 "Ya, memangnya kenapa?".



 "Tidak, hanya saja aku belum pernah naik mobil sebelumnya".



 "Begitu, tenang saja kau tidak usah takut, aku ada bersama kok" ucapnya lagi.



 "Ehm.... baiklah".



 Aku pun memasuki mobil tersebut bersamaan Hozuki-san, dan yang kurasakan pertama kali adalah sebuah temperatur dingin yang berasal dari AC.



 Ketika mobil kami mulai berjalan, aku merasakan sebuah perasaan tegang sekaligus sedikit merinding, namun, ketika aku melihat pemandangan di luar mobil, perasaan tersebut seakan-akan menghilang termakan keindahan kota Niigata.



 "Dia orang yang baik ya" ucapku.



 "Maksudmu Ryouchi?" Tanya Hozuki-san.



 "Ya"



 "Ya, dia memang orang baik, karena itulah dia menjadi tangan kananku, namun tahu tidak Aika-chan, dia seumuranmu lho"



 "Oh....pantas saja dia terlihat lebih muda dibandingkan yang lainya".



 "Kenapa kau tertarik padanya? Jangan-jangan kau....." ucap Hozuki-san dengan nada meledeknya.



 "Tentu saja tidak!" Bantahku.



 "Hihihi.....kau sangat lucu Aika-chan".



 "Moh.... jangan menggodaku terus".



 "Ngomong-ngomong, rumah anda dimana?" Tanyaku.



 "Tokyo"



 "Eh, tokyo?, tokyo yang itu?"



 "Ya"



 "Begitu, pasti akan sangat lama ya perjalanan ini" ucapku.



 "Tidak selama itu kok".



***



 Benar saja perjalanan kami pun berlangsung lama, ketika aku sudah dibatas kebosananku, tiba-tiba mobil kami berhenti.



 "Kenapa berhenti? apa sudah sampai?" Tanyaku.



 "Ya, turunlah Aika-chan" Jawab Hozuki-san.



 "Begitu, syukurlah".



 Aku pun turun dari mobil, namun betapa terkejutnya aku karena mendapati sebuah rumah berwarna putih yang teramat sangat besar, apa ini rumah Hozuki-san? Kalau benar ini adalah rumah Hozuki-san, itu berarti dia sangat kaya, bagaimana tidak, itu karena rumah yang kulihat ini lebih mirip disebut istana dibandingkan rumah biasa.



》》CHAPTER 03 : SENYUMAN DAN AIR MATA《《



 →To be continued←



 Terimakasih telah membaca I'll chapter 03 ini  >_<






 



Sabtu, 04 Maret 2017

I'll chapter 02 - Linovel



Type : Light novel

Judul : I'll 

Chapter : 02

Genre(s) : Drama, School

Author : 7E°

Date : 07-Februari-2017

 

--- 》》CHAPTER 02《《---

 

Namaku Aika Eiba, aku berumur 17 tahun di musim semi ini, tak banyak yang kusukai, tak banyak juga yang tidak kusukai, tetapi begitu banyak orang yang tidak menyukaiku.


 Salah satu yang kusukai sekarang ini adalah balon, balon yang mempunyai banyak warna adalah favoritku.



 Sementara itu, salah satu yang tidak aku sukai sekarang ini adalah kegelapan.



 Sedangkan orang yang membenciku saat ini begitu banyak jumlahnya, lalu, bagaimana jika aku beranggapan semua orang didunia ini membenciku?, jadi aku tidak perlu repot-repot mengelompokan mereka yang menyukaiku, dan mereka yang membenciku.



》》CHAPTER 02《《




 Pencuri?, siapa yang dia anggap pencuri?, aku sampai terkaget-kaget mendengarnya karena ia juga menelunjukan jarinya padaku.




 "Sekarang,,,,, kau tidak bisa lari kemana-mana lagi,,,,hah,,,,hah"




 Aku benar-banar tidak mengerti dengan apa yang dibicarakanya, apalagi aku juga bukanlah pencuri, walaupun memang benar aku pencuri, lalu apa yang kucuri darinya?, apa yang kucuri sampai sampai ia meyebutku pencuri?, cukup lama aku memikirkanya, sampai pada akhirnya aku sadar kalau aku sedang memegang tas yang bukan punyaku.



 Apa tas ini miliknya?, tapi bukankah tas ini kepunyaan laki-laki berkumis tadi.



 "Nyonya, apa yang kaukatakan barusan? Aku benar-benar tidak mengerti dengan hal yang tadi anda bicarakan" Aku bertanya padanya untuk memastikan.



 "Kau masih saja mengelak ya? Padahal sudah jelas bahwa kaulah yang mencuri tasku!" ucapnya sembari menunjuk tas yang kupegang ditanganku.



 Ternyata memang benar dugaanku, tapi, apa benar tas ini memang miliknya?.



 Kalau dipikir-pikir, memang tidak mungkin seorang laki-laki membawa tas semewah ini, apa laki-laki barusan mencuri tas ini darinya?, dan secara tidak sengaja aku memegang tas yang ia curi karena ia menjatuhkanya saat menabraku, oh,,,, akhirnya sekarang aku mengerti pokok kesalahpahaman ini.



 "Nyonya, ini buk----"



 Aku mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman ini, namun aku terdiam sejenak karena satu hal.



 Dia tiba-tiba mengambil sebuah handphone yang ia ambil dari belahan dadanya, bukan hanya itu, ia bahkan sedang menelpon polisi saat ini.



Pikirku saat itu adalah, Aku tidak ingin dipenjara, aku tidak ingin dipenjara hanya karena kesalahpahaman ini, jadi dengan reflek aku langsung mengambil handphone itu dari genggamnya, dan seketika langsung menonaktifkan panggilan tadi.



 "A-Apa yang kau lakukan, pencuri?!, tadi kau mencuri tasku, sekarang kau mau mencuri handphoneku juga?"



 Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya, pasalnya ia adalah tipe orang yang mudah berprasangka buruk.



 "Bukan begitu, makanya dengar dulu penjelasanku, bukan aku yang mencuri tas anda, aku mendapatkan tas ini dari seorang laki-laki yang tidak sengaja menjatuhkan tas ini, jadi aku hanya kebetulan memungutnya".



 "Benarkah?" Tanyanya belum percaya.



 "Ya"



 "Ehm memang benar sekilas aku melihat pencuri tadi seorang laki-laki, tapi, jangan-jangan perempuan itu salah satu komplotanya dan bekerja sama supaya dapat mengelabuiku, hehehe kau kira bisa membodohiku semudah itu?" Katanya dalam hati.



 Dia terdiam sejenak untuk beberapa waktu, namun setitik detik kemudian ia kembali bicara.



 "Baiklah aku percaya padamu!" Ucapnya.



 Aku begitu bahagia dan merasa cukup lega setelah ia mengatakan hal barusan.



 "Syukurlah, kalau begitu ini tas anda kan?" Ucapku sembari mengembalikan tas miliknya.



 Aku bersyukur dapat menyelesaikan masalah ini, akupun berjalan kembali ke bangunan tua tempat tinggalku dan hidup dengan tenang kembali, oh,,,,,atau mungkin tidak.



 Dia mengikutiku, ya, perempuan kaya tadi terus mengikutiku, sepertinya masalah ini masih belum selesai dan masih berlanjut.



 "Kau kira aku bisa percaya semudah itu?, hihihi tenang saja, pasti akan aku buktikan kalau kau adalah seorang pencuri" pikirnya dari kejauhan.



 Ya ampun sebenarnya apa yang dia pikirkan?!, itulah kata-kata yang terlintas dipikiranku.



 Sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini, sudah tersesat, aku juga diikuti oleh perempuan aneh yang senantiasa mengikutiku.



 Pikiranku benar-benar kacau sekaligus bingung pada saat itu, pasalnya aku sudah berjalan selama 30 menit guna mencari bangunan tua tadi, namun, tak kunjung membuahkan hasil, apalagi ditambah masalah yang ada dibelakang.



 Saat itu akupun memutuskan untuk satu-persatu membereskan masalah yang beruntun terjadi ini, pertama-tama aku harus melepaskan diri dari perempuan tadi, untuk itulah aku memutuskan untuk berlari secepat mungkin dan berharap semoga perempuan tersebut kelelahan dan kehilangan jejaku.



 "Dia berlari!" Ucapnya.



 Angin terus kuterjang, gedung-gedung pun telah aku lewati untuk kesekian kalinya.



 Aku terus berusaha berlari sekuat tenagaku, namun, ada satu masalah, perempuan yang mengejarku itu tidak tau kapan harus menyerah.



 Perempuan tersebut masih terus mengejarku meskipun aku tau dia sudah sangat kelelahan.



 Dan setelah beberapa menit ketika kami sampai disebuah jembatan, tiba-tiba sebuah kejadian menegangkan terjadi.



 Dia berlari terhuyung-huyung, yah mungkin itu terjadi karena tenaganya yang sudah habis, dia pun berlari tak tentu arah, dan seketika......



 "Byuarr........." ia terjatuh dari atas jembatan ke sebuah sungai yang ada dibawahnya.



 Ia hanyut seketika, apalagi saat itu arus sungai tersebut tengah deras-derasnya, orang-orang yang saat itu berada disekitar jembatan tersebut pun secara otomatis pandangan mereka tertuju padanya, bahkan ada juga orang yang teriak ketakutan.



 Aku heran karena tidak ada seorangpun yang berusaha menyelamatkan perempuan tersebut, jadi secara spontan aku langsung meloncat dari jembatan untuk nenyelamatkanya.



 Dari kejauhan kulihat ia sedang panik, kaki dan tanganya juga bergerak sangat kacau.



 Aku ingat betul saat itu air tersebut sangat dingin, tubuhku juga hampir beku karenanya, namun untunglah aku bisa menyelamatkan perempuan tersebut dan membawanya ketepi sungai.



 "Uhuk,,,,uhuk" ia batuk-batuk sesampainya ditepi, mungkin itu karena ia terlalu banyak menelan air.



 Tubuhnya juga gemetaran karena dinginya sungai, jadi langsung saja kulepas bajuku untuk menghangatkanya.

 "Nyonya, kau tidak apa-apa" tanyaku.



 "Ya, terimakasih telah menyelamatkanku" jawabnya



 "Tidak, lagipula setengahnya adalah kesalahanku" ucapku.



 "Omong-omong, Apa kau tidak apa-apa seperti itu?" Tanyanya tentang cara berpakaianku.



 "Ini? Tidak papa kok, aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin"



 "Bukan itu, maksudku apa kau tidak malu hanya memakai sebuah pakaian dalam saja?"



 Wajahku memerah seketika, aku bahkan baru sadar kalau aku sedang setengah telanjang saat ini.



 Bagaimana jika ada yang melihatku?, aku menjadi semakin malu saja ketika memikirkan hal tersebut.



 "Hehem,,, kau lucu sekali ya, ini" ucapnya sembari menyerahkan pakaianku.



 "Tapi, bagaimana dengan anda?".



 "Aku baik-baik saja kok, terimakasih telah menghawatirkanku".



 "Begitu, syukurlah".



 "Kau sangat baik juga ternyata, he~ bodohnya aku telah memangilmu seorang pencuri" ucapnya.



 Kurasa setelah ia mengatakan hal tersebut, telah membuat masalah pencuri ini terselesaikan, kali ini benar-benar telah selesai.



 "Omong-omong, apa kau tadi sebenarnya menyadari kalau aku sedang mengawasimu?".



 "Mana mungkin aku tidak menyadarinya?!, kau benar-benar tidak pandai dalam hal sembunyi!" Pikirku dalam-dalam.



 "Ya" jawabku.



 "Sial, padahal aku sudah berpikir kalau tadi aku sudah cukup pandai menyembunyikan kehadiranku".



 Aku hanya tersenyum ketika tadi ia mengatakan hal yang kuanggap sedikit lucu.



 Karena hari sudah menjelang sore, dan bajuku juga sudah cukup kering, akupun bergegas untuk pulang, namun ketika hendak berdiri aku baru ingat kalau masalahku yang satunya belum beres.



 "Oh".



 "Ada apa?" Tanyanya.



 "Aku baru ingat kalau aku sedang tersesat".



 "Eh! Kau tersesat?"



 "Ya"



 "Mau bagaimana lagi, ayo kita mencarinya" ajaknya.



 "Mencarinya? Bagaimana caranya?".



 "Bagaimana? Tentu saja bertanya pada orang-orang disekitar".



 Aku terdiam sejenak karena ucapanya, alasanya sederhana, itu karena aku sangat malu jika harus bertanya pada orang lain, apalagi pada orang yang tidak aku kenal.



 "Kau kenapa? Kalau kau tidak cepat, bisa-bisa keburu malam".



 "Ano,,,itu".



 "Ehm, jangan-jangan kau takut pada orang asing?".



 "Bukan begitu! Aku hanya malu".



 "Malu? Malu kenapa? Kita kan sesama manusia, jadi buat apa malu?".



 "Anda tidak tau masalahnya" ucapku.



 "Moh, sudah ikut saja!" Ucapnya sembari menarik tangan kananku.



 Tanganku ditariknya, dan kita mengelilingi kota Niigata sore itu.



 Gugup dan malu memenuhi pikiranku ketika bertanya dengan orang-orang disekeliling.



 Namun hal itu bertolak belakang dengan perempuan tersebut, ia bertanya dengan senyum lebar dan semangat yang membara.



 Namun berkatnyalah kami berhasil menemukan jalan yang benar sebelum langit biru digantikan peranya.



 "Syukurlah kita berhasil menemukan jalanya" ucapku.



 "Apa benar ini jalanya?" tanyanya memastikan.



 "Ya, oh terimakasih ya telah membantuku"



 "Tidak apa, lagipula tadi kau juga menyelamatkanku".



 "Anda ternyata orang yang baik ya" pujiku.



 "Aku memang selalu baik, memangnya kau tadi mengira aku orang yang bagaimana?" Tanyanya dengan nada menyombongkan diri.



 "Coba kuingat, kukira anda adalah orang yang mencurigakan, pengganggu, oh dan juga orang yang suka berprasangka buruk"



 "Kejam~"



 "Hihihi..." tawa kecilku.



 "Ah... aku baru ingat kalau kita belum berkenalan, Mitsuko hozuki, itu namaku" ucapnya.



 "Benar juga ya, namaku Aika eiba"



 "Aika-chan?, nama yang lucu".



 "Terimakasih, Hozuki-san".



 "Apa rumahmu masih jauh?" Tanyanya.



 "Sudah Deket kok, tinggal satu belokan lagi"



 "Begitu".



 Aku dan Hozuki-san akhirnya sudah sampai dibangunan tua semalam, sungguh senang rasanya ketika kembali lagi ke rumah tempat tinggalku ini.



 Aku ingin meluapkan kebahagian ini karena telah berhasil mengatasi satu persatu masalah yang terjadi, namun ketika aku memalingkan wajahku kearah Hozuki-san, aku melihat ia memasang muka terkejut, badanya membeku, mulutnya juga terbuka lebar. Ia begitu terkejut seakan-akan sedang melihat sebuah monster dihadapanya.



 》》CHAPTER 02 : PENGGANGGU 《《



→To be continued←



 Terimakasih telah membaca I'll chapter 02 ini >_<








I'll - Linovel

Type : Light novel

Judul : i'll

Jumlah chapter : Unkwon

Genre(s) : Drama, School

Status : Ongoing

Author : 7E° 

Written on : 01-februari-2017 (to) Unkwon

 

 Sinopsis :

  Aika eiba adalah seseorang yang tidak memiliki sebuah kebahagiaan di hidupnya, ia tidak diinginkan oleh siapapun di dunia ini, orang-orang selalu menjauhinya, apalagi keluarga dan kerabatnya sudah tidak ada disampingnya lagi, hingga suatu hari ia bertemu dengan perempuan 'aneh' yang selalu mengikutinya, dia bernama Mitsuko hazuki, tanpa Aika sadari kalau ternyata Hazuki lah yang akan merubah nasibnya menjadi sebuah keberadaan yang dikelilingi oleh cahaya.


Bab 1 : Cakrawala baru

I'll  Chapter 01

I'll  Chapter 02

I'll  Chapter 03 

I'll  Chapter 04 

 



 

  

 


I'll chapter 01 - Linovel

Type : Light novel

Judul : I'll

Chapter : 01

Genre(s) : Drama, School

Author :  7E° 

Date : 01-Februari-2017

 


--- 》》Linovel ID《《---

 

 Pernahkah kau berpikir untuk menjadi seseorang yang dicintai oleh semuanya?.


 Seseorang yang dicintai oleh orang tuanya, keluarganya, kerabatnya, tetangganya, Gurunya, Teman-temanya, dan dicintai oleh orang yang kau cintai.


 Jujur saja kalau aku pernah terpikirkan akan hal itu, bahkan hampir setiap waktu aku selalu memikirkan hal tersebut.


 Oh aku lupa menanyakan sesuatu, jika kau diberi sebuah tombol reset dari tuhan, akankah kau menekan tombol reset tersebut?


 》》CHAPTER 01《《



 Aku berjalan pulang kerumah dari sekolah, pukul 04:30 adalah waktu yang tepat.


 Suara orang-orang yang tengah berbisik selalu saja tidak sengaja kudengar, atau bisa dibilang aku tidak bisa untuk tidak mendengar suara-suara yang menggelisahkan tersebut.


 Sampai di kamar kostku, sebuah ruangan kosong kulihat dengan biji mataku, tak ada yang menyambutku, yang menyambut kepulanganku hanyalah seekor cicak yang tengah hinggap di tembok kamarku.


 Kulepas kancing baju seragamku satu persatu, kemudian kuambil sebuah handuk yang tergantung dijemuran.


 Belum sempat aku masuk ke kamar mandi, suara ketukan pintu tiba-tiba bergeming dari luar pintu.


 Aku bingung untuk beberapa detik, pasalnya aku sudah melepas semua bajuku, karena aku tidak tau yang mengetuk pintu tersebut siapa, akupun memutuskan untuk memakai seragamku kembali sebelum membuka pintuku.


 Genggamku ke gagang pintu, dan disaat itu aku melihat seorang ibu-ibu dengan ekspresi marah yang jelas tergambarkan dari wajahnya.


 "SUDAH KUKATAKAN BERULANG KALI KEPADAMU UNTUK MENJAUHI PUTRAKU! TAPI KAU MASIH TETAP SAJA MENDEKATINYA!"


 Burung-burung yang bertengger di pohon saat itupun seketika langsung terbang menjauh.


 "Maaf Kimura-san.......maafkan aku........."


 Aku meminta maaf kepadanya hanya karena alasan yang tidak jelas tersebut, bahkan aku melakukanya dengan lekukan tubuh 90°.


 Akan tetapi ia tidak bergeming dengan permintaan maafku, dan tetap kekeh dengan pendirianya untuk tetap memarahiku.


 Bahkan hanya jelang beberapa detik saja ia kembali berteriak dengan volume yang terlebih keras dari teriakan yang pertama.


 "AKU SUDAH MUAK DENGAN PEEMINTAAN MAAFMU! LEBIH BAIK KAU PERGI SAJA DARI RUMAH KOSTKU!".


 Dengan wewenangnya sebagai ibu kost, tentu saja ia berhak untuk mengusirku saat itu juga.


 "Kumohon jangan mengusirku Kimura-san...... aku tidak tau harus tinggal dimana lagi........" mohonku padanya dengan lekukan tubuh lebih rendah dibawah angka 90°.


 Air mataku tak kuasa kubendung, tetes per tetes secara perlahan mulai mengalir dari kelopak mataku.


 "AKU TIDAK PEDULI!"


 Ia berteriak untuk kesekian kalinya, bukan hanya itu, bahkan kali ini ia masuk kekamarku dan mulai mengemasi barang-barangku tanpa seijin dariku.


 Saat sedang dalam keputusasaan, seorang anak kecil yang kira-kira berumur 10 tahun datang menghampiriku.


 Dengan suara kecilnya ia berteriak kepada ibunya, yap kepada si ibu kost.


 "Ibu apa yang sedang kau lakukan!"


 Kimura-san seketika langsung terhenti setelah mendengar suara anaknya yang berada di luar pintu kamarku.


 "Apa yang sedang kau lakukan disini?!, Ren!"


 "Seharusnya Ren yang bertanya begitu!, apa yang sedang ibu lakukan di kamar Aika-nee-chan".


 Nafasnya tersenggal setelah berteriak untuk yang kedua kalinya.


 Kimura-san keluar dari kamarku, ia menekuk kedua lututnya lalu didekapnya kedua bahu Ren di kedua tanganya.


 "Dengar Ren, Aika itu tidak baik untukmu, dia hanya membawa efek negatif saja pada dirimu".


 "Memangnya apa yang ibu ketahui tentang Aika-nee-chan?! Aika-nee-chan itu orang yang baik, dia selalu ada disampingku ketika aku sendirian".


 Berdirinya dari berlutut, dia kemudian kembali berteriak, namun kali ini teriakanya ditujukan bukan kepadaku melainkan kepada Ren, anaknya sendiri.


 "Kalau begitu terserah apa katamu! Kalau kau tetap ingin bersama wanita tersebut, lebih baik kau ikut pergi denganya saja!".


 Kaki wanita paruh baya tersebut pergi meninggalkan Ren yang tengah menangis begitu saja.


 Sanubariku tersentuh saat itu, ibu macam apa yang menyuruh anaknya untuk pergi, sebenarnya Ren tidak salah apa-apa, padahal dia hanya mencoba untuk membelaku saja.


 Aku menghampirinya, kemudian kuelus kepalanya dan aku membisikan beberapa kata kepadanya.


 "Ren pulanglah, hampiri ibumu lalu minta maaflah kepadanya".


 "Tapi bagaimana dengan Aika-nee-chan?" Tanyanya menghawatirkanku.


 "Kau tenang saja, Aika-nee-chan baik-baik saja"


  Walaupun saat itu aku tersenyum, namun sebenarnya ada satu hal yang aku sembunyikan darinya, satu hal yang aku tidak ingin Ren untuk mengetahuinya, yaitu aku tidak ingin dia tahu kalau senyumku saat itu adalah sebuah senyuman palsu.


 "Aika-nee-chan yakin?" Ucapnya sambil terus menangis.


 "Ya, tenang saja".


 "Kalau begitu aku pergi dulu, Aika-nee-chan tunggu saja disini".


 "Ya, pergilah temui ibumu" ucapku untuk meyakinkan Ren.


 Matahari telah terbenam dan suasana gelap telahpun menyelimuti langit biru, namun itu tidak berlaku untuk Ren, karena bersamaan dengan terbenamnya matahari, senyum manisnya telah kembali kewajahnya.



 Kubuka lemari bajuku dan mulai mengemasi pakaianku, sungguh berat rasanya kaki ini untuk pergi dari rumah kost tersebut.

 

 kusobek secarik kertas dan menuliskan beberapa butir permintaan maafku teruntuk Ren, lalu kutinggalkan surat tersebut bersamaan dengan uang sewa kamar bulan ini di atasnya.


 Aku melangkah jauh meninggalkan rumah sementaraku itu.


 Air mataku masih saja menetes, orang-orang yang sedang berjalan saat itupun otomatis menatapku saat berpapasan.


 "Kenapa ia menangis?" Mungkin itulah kata-kata yang terpikirkan oleh orang-orang tersebut.


 Karena aku tidak ingin menjadi bahan tontonan, akupun sesegera mungkin menutup wajahku dengan rambut panjangku.


 Sungguh sangat indah pemandangan kota Niigata pada malam yang dingin itu, gedung-gedung tinggi menghiasi jalanan, apalagi ditambah dengan lampu rumah dan juga lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang membuat suasana malam itu sangat berwarna, oh..tapi keindahan itu tak berarti bagi hatiku yang tengah kesepian.


 Orang-orang sedang makan dengan enaknya saat aku mengintip sebuah restaurant yang kebetulan berniaga di jalan yang kutapaki.


 Aku sangat lapar dan kedinginan, bahkan beberapa kali suara perutku terus menerus tak berhenti untuk bersuara, saat itulah aku teringat kalau aku belum makan apa-apa sejak pagi tadi.


 Aku terus berjalan dan berjalan terus menerus, mungkin sudah sejam lebih semenjak aku meninggalkan rumah kostku.


Ketika hari sudah semakin dingin, saat itulah untungnya aku menemukan sebuah bangunan tua dihadapanku, mungkin bangunan tersebut sudah setahun lamanya ditinggalkan. Saat itu yang ada dipikiranku adalah "mungkin malam ini aku tidur disini saja".


 Akupun memutuskan untuk memasuki bangunan tersebut, dan yang kutemui disana adalah sebuah bangunan yang disetiap sudutnya terdapat banyak sekali kawanan laba-laba dan jaringnya.


 Saat itu aku tidak memikirkan semua itu, toh aku juga tidak punya tempat lain yang lebih baik dari tempat ini, lagipula bangunan ini juga masih lumayan layak untuk ditempati.


 "Aku harap besok akan lebih baik daripada hari ini" harapku sebelum terlelap malam itu.


 Akupun akhirnya tidur dibangunan tersebut, dibangunan yang tidak ada secercah cahaya sedikitpun, bangunan yang dingin, dan juga aku harus tidur tanpa sebuah kecupan kasih sayang. Hal itu seolah-olah keberadaanku ini tidak diinginkan oleh seorang pun di dunia ini.


 ***


 Matahari telah menyongsong di pagi hari ini, akupun dibangunkan oleh sinarnya yang menghangatkan.


 Baru beberapa menit saja, perutku sudah kembali berbunyi lagi.


 Kubuka pintu bangunan tersebut, ketika sinar sang cakrawala sudah mengenai langsung wajahku, saat itulah nampaknya aku sudah benar-benar sadar dari tidurku.



 Ketika aku mengelus rambutku, saat itulah aku merasakan kekusutan yang teramat kusut disetiap helainya.




 Karena hal itulah akupun pergi keluar mencari sumber mata air untuk membasuh rambut kusutku ini.


**Disebuah toko**


 Terlihat seorang perempuan paruh baya tengah berjalan keluar dari sebuah toko perhiasan.


 Dilihat dari penampilanya, sepertinya perempuan tersebut adalah seseorang yang kaya raya, itu terlihat dari tasnya yang divariasi dengan beberapa butir berlian murni.


 Dia berjalan dengan lenggak-lenggoknya, dan dia sepertinya tidak menyadari kalau dia sedang diawasi.


 Berjarak sekitar 15 meter dari tempatnya, seorang laki-laki berkumis tengah mengawasinya sejak dari tadi.


 Laki-laki tersebut masih terus mengawasi perempuan tersebut, dan ketika sampai disebuah tikungan, ia tiba-tiba berlari dari tempatnya.


 Dicurinya tas milik perempuan tersebut oleh laki-laki itu, dan dengan secepat kilat ia pun berlari.


 "Tolong,,,,,,,Tolong!!"


 Perempuan itu hanya bisa menjerit meminta tolong, namun nampaknya laki-laki pencuri itu sangat cerdik, karena ditikungan tersebut tidak ada seorangpun yang terlihat.


 Karena terpaksa, perempuan itu pun mengejar pencuri itu seorang diri.


 Dan kejar mengejar antara korban pencurian dengan pelakunya pun terjadi tak terelakan.


***


 Setelah cukup lama aku berjalan, akhirnya aku menemukan sebuah sumber mata air berupa keran.


 Akupun memutuskan untuk mencuci rambutku di keran tersebut, lagipula tempat itu juga sepi tanpa ada seorangpun yang berlalu lalang.


 Kubilas setiap helai rambutku, saat itu akupun kembali mendapatkan kesegaran yang sudah lama tidak aku rasakan.


 Aku juga beberapa kali meminum air dari keran itu, walaupun air itu mungkin air yang kotor, namun aku tidak punya pilihan lain karena saat itu aku sudah teramat haus.


 jika membeli air minum dari toko, aku juga tidak bisa melakukanya dikarenakan tidak memiliki uang sepeserpun, jadi mau tidak mau aku harus meminum air keran itu jika ingin memuaskan dahagaku.


 Setelah selesai minum akupun sesegera mungkin kembali ke bangunan tua tadi sebelum ada seseorang yang melihatku, walaupun jalanan saat itu masih sepi, namun aku juga berjaga-jaga dengan menutup wajahku dengan rambutku. Hal itu lagi-lagi kulakukan karena aku tidak ingin menjadi bahan tontonan orang-orang.


 Aku berjalan sudah cukup lama, bahkan bisa dibilang lebih lama dibandingkan dengan saat aku mencari sumber air itu.


 Karena tak kunjung menemui bangunan tua tersebut, aku pun menyadari kalau aku telah tersesat entah kemana.


  Aku terus berjalan mencari jalan pulang, dan ketika aku menemukan sebuah pertigaan, saat itulah aku......


 "Duar!!!"


 Seorang laki-laki berkumis yang tengah membawa sesuatu ditangan kananya tiba-tiba menabrakku, bahkan karena kerasnya, akupun sampai tersungkur kebelakang.


 Seluruh rasa sakit kurasakan disekujur tubuhku, terutama dibagian kepala karena terbentur tembok jalan.


 Saat aku melihat kembali laki-laki itu, ternyata ia sedang mengelus-elus tangan kananya, jadi kesimpulanya mungkin ia juga merasakan sakit karena tabrakan tadi.


 Ketika aku mencoba mendekatinya, aku merasa terkejut karena tiba-tiba saja ia berteriak.


 "Brengsek!,,, apa yang sedang kau laku---!"


 Ia tiba-tiba berhenti dan membeku tak bergerak, aku tidak tau mengapa hal itu terjadi.


 "Pak, kau tidak apa-apa?" Tanyaku padanya.


 Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku dan masih saja membeku, namun beberapa belas detik kemudian ia kembali berteriak.


 "H-HAN-HANTU!!!!!!" Teriaknya sembari lari ketakutan.


 Aku tidak tau mengapa ia berteriak begitu, mungkinkah ia mengira kalau aku adalah hantu karena rambutku yang saat itu menutupi seluruh wajahku?, entahlah, namun yang pasti ia meninggalkan benda yang ia bawa tadi.


 Aku mendekati benda tersebut yang terlempar cukup dekat dengan sebuah tiang listrik, dan betapa terkejutnya aku setelah aku mengetahui kalau benda tersebut adalah sebuah tas berlapis berlian murni.


 Akupun memutuskan untuk memungutnya kemudian mengembalikan tas tersebut kepada pemiliknya, namun belum sempat aku berbalik badan, tiba-tiba seorang perempuan datang dari sisi yang lain dari pertigaan tersebut.


 Aku terdiam sejenak karena melihatnya bernapas tak beraturan, ketika aku mencoba mendekatinya, aku kembali terkejut karena ia juga berteriak seperti seorang laki-laki tadi.


 "Kena,,,,,,kau,,,,pen-pencuri!" Teriaknya terpotong-potong.


 Aku tidak tau apa yang ia maksud, siapa yang ia panggil pencuri? aku?! tidak mungkin, tadi aku dibilang hantu, sekarang aku juga malah dibilang pencuri?. Kira-kira begitulah yang aku pikirkan saat itu.



》》CHAPTER 01 : KESENDIRIAN《《




→To be Continued←


Terimakasih telah membaca I'll chapter 01 ini  >_<












Jumat, 18 November 2016

HimiGakusei Chapter 05 - Menjadi lebih dekat








Type : Light novel

Judul : HimiGakusei

Chapter : 05

Tittle : Menjadi lebih dekat

Genre(s) : School, Romance, Drama, Comedy, Supernatural

Author : Eka anggadara

Written on :14 - November - 2016


*****

 

 "Seperti yang kita ketahui kalau tahun kemarin pendaftaran di universitas karakura meningkat drastis, kira-kira apa yang akan dilakukan pihak sekolah untuk menanggapi peristiwa ini, Ohzuki-sensei?".

 "Yah kami akan memperketat persyaratan untuk memasuki sekolah ini?"

 "Kalau boleh tau persyaratan apa yang diperketat itu, Ohzuki-sensei?".

 "Ehm...kami hanya menerima murid yang berprestasi".

 "Jadi, walaupun IQ murid tersebut besar namun tidak berprestasi, pihak sekolah tidak akan menerimanya?, apakah benar seperti itu, Ohzuki-sensei?"

 "Ya, dan juga semakin banyaknya mahasiswa yang bergabung tahun ini, itu menandakan bahwa kami harus memperbaiki infrastruktur di universitas kami, jadi mungkin biaya yang harus dibayar oleh mahasiswa baru akan diperbesar".

 "Begitu ya, apa anda yakin kalau perubahan ini akan memperkecil siswa yang mendaftar di universitas Karakura?".

 "Ya, aku yakin".

 "Kau ternyata sangat percaya diri ya, Ohzuki-sensei, baikah pemirsa kami akan melanjutkan obrolan kami dengan kepala Universitas Karakura, ohzuki-sensei. Tetapi setelah anda menyaksikan beberapa pesan berikut ini".

 "Kenapa kau menonton acara itu?".

 "Apa maksudmu?".

 "Kita kan tidak mungkin bisa masuk ke universitas Karakura".

 "Jadi?".

 "Jadi tidak ada gunanya menonton acara ini".

 "Dengar ya Nanase, Aku menonton acara obrolan ini, semata-mata
Agar aku tidak ketinggalan informasi dari teman-temanku". Jelasku sambil terpaksa menghentikan makanku.

 "Tunggu!, kau tadi bilang teman?".

 "Ehm, memangnya kenapa?" Ucapku sembari menganggukan kepalaku.

 "Eh, jadi kau sudah punya teman?"

 "T-Tentu saja punya B-Bodoh!"

 "Siapa itu?".

 "Pokoknya ada!, omong-omong kenapa kau kesini?" Ucapku yang berusaha untuk mengalihkan obrolan.

 "Memangnya kenapa?, apa aku tidak boleh kesini?'

 "Bukan itu, maksudku ini kan masih pagi".

 "Oh itu maksudmu?"

 "Ya, kenapa kau kesini?".

 "Aku hanya ingin membuatkanmu sarapan, lagipula ayah dan ibuku sedang pergi bekerja".

 "Orang tuamu belum pulang juga?"

 "Ya"

 "Pasti sulit ya menjadi anak dari seorang ilmuwan".

 "Kau jangan bersikap sok kuat begitu, aku masih mending jika dibandingkan dengan orang tuamu yang baru pulang setelah 3 bulan bekerja".

 "Kau benar juga" ucapku sambil murung.

 "Omong-omong takuya"

 "Apa?"

 "Kapan kau berangkat sekolah, lihat sekarang sudah hampir pukul 08.30" ucap Nanase sambil menunjuk jam tanganya.

 "Gawat!, kenapa kau baru bilang sekarang?!, aku berangkat dulu ya Nanase".

 "Ya, hati-hati dijalan".

-----------------------------------------------
CHAPTER 05 : MENJADI LEBIH DEKAT
-----------------------------------------------

 Kemudian aku buru-buru menuju sekolah dengan berlari, namun anehnya suasana lingkungan hari ini lebih gelap dari biasanya.

 Aku sampai disekolah, dan ketika kubuka pintu kelasku, disitu aku hanya melihat seorang siswa.

 Rambutnya hitam dan pendek, memakai gelang merah ditanganya, serta memiliki ukuran tubuh yang cukup tinggi.

 Saat kudekati ternyata dia adalah Akihiro tetsu, saat itu aku ingin menyapanya tetapi aku terlalu gugup untuk mengatakanya.

 Akhirnya aku memutuskan hanya melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

 Aku duduk dibangkuku yang saat itu entah kenapa terasa sangat dingin, kemudian aku melihat keluar jendela sambil manunggu jam pertama dimulai.

 Saat aku sedang melihat kawanan burung diluar, tiba-tiba Akihiro-san memulai pembicaraan denganku.

 "Kau kejam sekali ya, Shirozuki-kun" ucapnya sambil sedikit tersenyum.

 "A-Apa maksudmu?".

 "Aku dari tadi menunggu sapaan darimu lho, tapi kau malah mengabaikanku bahkan kau tidak melihat wajahku sama sekali".

 "B-Begitukah?, maaf kalau aku tidak menyapamu, tapi aku bukanya tidak ingin melihat wajahmu, hanya saja aku melihat pemandangan yang menenangkan di luar sana, pokoknya Aku minta maaf!"

 "Baiklah, lagipula aku tidak terlalu memikirkanya, kalau begitu selamat pagi Shirozuki-kun".

 "P-Pagi juga, akihiro-san".

 "Ya, ngomong-ngomong hari ini kau berangkat pagi sekali, memangnya ada apa?"

 "Pagi?, bukankah sekarang sudah jam setengah delapan?".

 "Setengah delapan?, lihatlah jam itu" ucapnya sembari menunjuk sebuah jam dinding yang terpasang di depan ruangan kelas.

 "Eh!, jam setengah tujuh?!"

 "Ya, sekarang masih jam setengah tujuh".

 "Sial, aku dibohongi oleh Nanase".

 "Nanase?, Apa dia pacarmu?".

 "Tentu saja bukan kan, Nanase itu teman masa kecilku".

 "Begitukah?, kau memang terlihat mudah sekali untuk di bohongi, Shirozuki-kun?".

 "Apa itu sebuah sindiran?".

 "Hahaha, maaf"

 "Heh, oh iya kenapa kau berangkat sekolah pagi hari begini?".

 "Aku?, ah itu karena aku mengikuti klub, jadi aku harus berangkat lebih pagi untuk latihan".

 "Begitukah?, kalau boleh tau kau mengikuti klub apa?"

 "Klub basket, apa kau ingin bergabung juga?".

 "Itu tidak mungkin".

 "Kenapa? Apa karena kau tidak pandai bermain bola basket".

 "Bukan itu, aku sudah mengikuti sebuah klub".

 "Benarkah?, kau ikut klub apa?"

 "Klub ikatan".

 "Klub ikatan?, itu terdengar asing bagiku".

 "Wajar saja begitu, klubku itu memang tidak terlalu terkenal di kalangan para siswa, namu sepertinya aku merasa nyaman di klubku itu".

 "Begitu"ucapnya.

 "Tetsu, apa yang sedang kau lakukan, cepat kita berlatih"

 Tiba-tiba pintu ruangan kelas terbuka, dan muncul 2 orang sambil mengenakan sebuah seragam basket.

 "Ah kalian, apa semuanya sudah datang?"

 "Ya, tinggal kau saja yang belum"

 "Begitu, baiklah aku akan menyusul sebentar lagi"

 "Sebaiknya kau cepat Tetsu, kau tau kan jika membuat pelatih marah"

 "Ya,ya".

 Kemudian kedua orang itu pergi menuju lapangan basket, sedangkan Akihiro-san sedang mengganti pakaian seragamnya dengan baju tim basketnya yang berwarna hitam.

 "Kau mau menonton?" Ajaknya.

 "Tidak, aku disini saja".

 "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya".

 "Ya".

 Kemudian ia juga pergi meninggalkan ruangan kelasku menuju kelapangan basket, sementara aku masih sendiri didalam kelas dan melanjutkan melihat sekawanan burung diluar.

 Saat sedang melihat keluar, aku baru sadar kalau kini aku sudah semakin dekat dengan Akihiro-san.

*****

 "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyaku kepada hiruma-san yang pada saat itu sedang meminum kopi menggunakan piring.

 "Ini?, aku sedang minum kopi".

 "Aku tau itu, maksudku kenapa kau meminum kopi menggunakan piring?".

 "Itu karena kita tidak memiliki gelas".

 "Tunggu, bukankah kita memiliki 5 buah gelas?".

 "Semuanya sudah pecah". Ucap Miyuki-san yang saat itu tiba-tiba datang.

 "Pecah?"

 "Ya, Sato yang memecahkan semua gelasnya kemarin".

 "Apa?!, kenapa?"

 "Aku tidak sengaja, maaf ya Shi-kun tehe"

 "Tidak ada kata maaf bagimu".

 "Seram,,,,, seram,,,,mukamu seram sekali Shi-kun".

 "Bagaimana ini, kalau tidak ada gelas yang tersisa bagaimana cara kita minum".

 "Itu mudah!"

 "Caranya?"

 "Kita beli saja gelas yang baru".

 "Bicara memang mudah, masalahnya semua uang anggaran klub sudah habis terpakai".

 "Kalau begitu kita minum menggunakan piring saja!" Usul Hiruma-san.

 "MATI SANA!" bentaku dan Miyuki-san.

 "Jangan begitu dong, lagipula ini bukan semuanya salahku".

 "Maksudmu?".

 "Maksudku andai saja kemarin kau masuk klub, kejadian ini pasti tidak akan terjadi".

 "Tunggu!, jangan-jangan kau menyalahkanku?".

 "Ya" ucapnya tanpa ragu.

 Mendengar itu malah membuatku semakin kesal saja, namun aku berusaha untuk menenangkan diri, karena jika tidak pasti obrolan ini tidak akan ada habis-habisnya.

 "Ngomong-ngomong kenapa kemarin kau tidak kesini?" Tanya Miyuki-san.

 "Kemarin aku sangat sibuk".

 "Sibuk?, jangan-jangan kau kemarin berkencan dengan pacarmu" kali ini giliran Hiruma-san.

 "Tentu saja tidak".

 "Lalu kau kemana?".

 "Aku membantu Chinatsu Akane-senpai untuk mengurutkan nama anak siswa yang datang terlambat".

 "Chinatsu akane? Siapa dia?". Tanya Hiruma-san

 "Kau tidak tau Chinatsu Akane-senpai?" Tanya balik dari Miyuki-san.

 "Ya, siapa dia?"

 "Dengar ya Sato, Chinatsu-senpai itu adalah siswa dengan IQ tertinggi di sekolah ini, ditambah lagi dia adalah salah satu anggota osis, dan kabarnya ia akan masuk ke akademi Karakura".

 "Wah dia orang besar, tapi Shi-kun?".

 "Apa?".

 "Kenapa kau yang membantunya?"

 "Kalau itu karena kemarin aku melakukan hal yang tidak sengaja kulakukan padanya".

 "Apa itu? Mungkinkah kau tidak sengaja melihat celana dalamnya?".

 "Tentu saja bukan!, pokoknya secara garis besar itulah yang membuatku tidak bisa menghadiri kegiatan klub kemarin".

 "Ya,ya~".

 "Hei bagaimana kalau kita melakukan ini?" Tanya Miyuki-san sembari memperlihatkan sebuah selebaran kertas.

 "Apa ini? Bantuan membersihkan sekolah lama?" Tanyaku.

 "Ya, kurasa ini bisa memberikan kita penghasilan tambahan, jadi bagaimana?"ucap Miyuki-san

 "Ini bagus, bayaranya juga cukup banyak, tapi miyuki-san bukankah tempat ini terlalu jauh?".

 "Tenang saja, kegiatan ini dilakukan di hari minggu, jadi kita bisa kesana menggunakan kereta"

 "Benar juga, jadi bagaimana Shi-kun?"

 "Ya baiklah kurasa ini perlu dicoba"

 "Jadi kita semua setuju?"

 "Ya"

 "Tentu"

 "Oke, besok jam 7  pagi kita akan kesana".

 "Tunggu Hiruma-san!"

 "Ada apa Shi-kun?".

 "Kita berangkat besok pagi kan?"

 "Ya, memangnya kenapa?".

 "Aku ingin tanya, bagaimana cara kita bertemu?".

 "Kau benar juga, ehm dimana ya? Apa kau punya ide Kanna?"

 "Bagaimana kalau kita bertemu di Bioskop Expert?"

 "Itu cukup bagus, lagipula tempat itu juga cukup dekat dengan Stasiun" ucapku.

 "Jadi kita akan bertemu disana? Baiklah, jangan sampai terlambat ya!"

"Ya, pasti".

 Dan begitulah kegiatan klub hari itu, setelah itu aku pulang duluan, sedangkan Hiruma-san serta Miyuki-san pulang agak sedikit terlambat karena mereka disuruh guru untuk membantu mengantarkan dokumen kekantor.

 Langit yang berwarna orange itu menghiasiku saat aku tengah berjalan kerumah.

 Saat sedang berjalan pulang aku baru menyadari kalau ada sesuatu yang aku lupakan disekolah, jadi aku memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kelas.

 Saat sampai di kelas, aku langsung memeriksa laci mejaku dan untung saja aku berhasil menemukan bukuku yang tertinggal.

 Kemudian aku keluar kelas dan bersiap untuk pulang, namun saat aku sedang berjalan tiba-tiba aku melihat Hiruma-san sedang berdiri di depan loker milik Miyuki-san.

 Saat itu yang ada di pikiranku adalah, sedang apa dia berdiri di depan loker milik Miyuki-san?.

 Karena penasaran akhirnya aku berusaha mendekatinya, dan saat itu aku melihat Hiruma-san sedang membuang sebuah surat berwarna merah muda yang dia ambil dari dalam loker Miyuki-san.

 "Kau sedang apa Hiruma-san?"

 "Ah Shi-kun, kupikir kau sudah pulang".

 "Ya, aku memang sudah pulang, tapi tiba-tiba aku teringat kalau bukuku tertinggal di kelas jadi aku memutuskan untuk mengambilnya"

 "Lalu kau sudah temukan bukumu?".

 "Ya, jadi sedang apa kau disini?".

 "Aku?, aku sedang mengganti sepatu indoor-ku dengan sepatu outdoor-ku".

 "Benarkah?".

 "Tentu, kau bisa melihatnya sendiri kan?"

 "Ya benar juga".

 Walaupun aku berkata demikian, tapi sebenarnya aku sudah tau kalau Hiruma-san sedang berbohong, namun karena sepertinya dia sedang berusaha untuk menyembunyikan kebohonganya, akhirnya aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.

 "Oh iya dimana Miyuki-san?"

 "Kalau kau mencari kanna dia sudah pulang duluan?".

 "Begitu"

 "Jadi bagaimana kalau sekarang kita pulang bersama?"

 "Ayo"

 Dan akhirnya aku pulang bersama Hiruma-san, namun sebenarmya saat itu aku terus memikirkan surat apa yang tadi dibuang Hiruma-san.

 Aku juga sempat beranggapan kalau surat itu adalah surat cinta, namun jika itu benar-benar sebuah surat cinta, kenapa Hiruma-san membuangnya?.

 》》To be continued《《

 Terimakasih telah berkunjung ke Linovel Id, kunjungi terus wwe.Linovel-ID.blogspot.com untuk mendapatkan update novel terbaru dari kami.